Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

DIY Dikepung Sesar Pemicu Gempa, Pakar Geofisika UGM Sebut Opak Paling Aktif, Sesar Mataram dan Dengkeng Perlu Diwaspadai

Iwan Nurwanto • Rabu, 28 Januari 2026 | 21:05 WIB
Sesar Opak Bukit Mengger, Bantul, Lokasi Geologi yang terlihat.
Sesar Opak Bukit Mengger, Bantul, Lokasi Geologi yang terlihat.

JOGJA - Pakar Geofisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UGM Wiwit Suryanto mengingatkan pemerintah dan masyarakat untuk selalu waspada potensi bencana gempa bumi. Sebab, DIY merupakan wilayah yang dikepung sesar atau lempengan yang dapat melepaskan energi gempa tektonik tanpa bisa diprediksi.

Wiwit mengatakan, Sesar Opak tetap wajib menjadi fokus utama karena merupakan sesar yang masih aktif sampai saat ini. Bahkan jelas terbukti menunjukkan aktivitas kegempaan yang cukup terasa pada Selasa (27/1). Sesar tersebut juga merupakan episentrum gempa dahsyat di DIY pada 2026.

“Bentangannya sangat panjang, mulai dari daerah Prambanan yang berbatasan dengan Klaten, hingga ke pantai selatan, bahkan mungkin berlanjut sampai ke laut,” beber Wiwit kepada Radar Jogja Rabu (28/1).

Selain mewaspadai Sesar Opak, wakil dekan bidang penelitian dan kerja sama FMIPA UGM itu juga mengingatkan tentang ancaman sesar lainnya. Yakni Sesar Mataram dan Sesar Dengkeng.

Sesuai mamanya, Sesar Mataram terletak di aliran Selokan Mataram. Sementara Sesar Dengkeng terletak di Sungai Dengkeng, Klaten, Jawa Tengah.

Wiwit menyatakan, sampai saat ini dua sesar tersebut belum menunjukkan aktivitas kegempaan yang cukup masif. Bahkan juga belum ada penelitian mendalam terkait dengan potensi bahaya dari dua sesar tersebut.

Pakar Geofisika FMIPA UGM Wiwit Suryanto
Pakar Geofisika FMIPA UGM Wiwit Suryanto

Meskipun begitu, indikasi keberadaan Sesar Mataram dan Dengkeng sudah tampak dari tanda-tanda geologis. Misalnya seperti pembelokan arah sungai atau pergeseran batuan. 

Untuk memastikan bahaya dari dua sesar tersebut, Wiwit menegaskan peneliti perlu melihat histori kejadian gempa di dua titik sesar. Jika patahan tidak pernah menunjukkan aktivitas gempa dalam sejarahnya. Maka patahan bisa dikategorikan tidak aktif dan tidak berpotensi menghasilkan gempa. Begitupun sebaliknya.

“Ini (sesar gempa, Red) ibarat tumor, konon ada yang berbahaya ada yang tidak. Gempa juga, ada patahan tapi tidak aktif, tapi ada yang memang sudah terbukti aktif semacam Sesar Opak,” beber Wiwit.

Baca Juga: Pendaki Hilang di Bukit Mongkrang Belum Ditemukan, Sekda Jateng Cek Langsung Upaya Pencarian

Meski dikepung banyak pemicu gempa, Wiwit mengimbau agar masyarakat tidak perlu panik tapi tetap waspada. Belajar dari negara seperti Jepang, gempa bumi sebenarnya tidak membunuh.

Namun korban jiwa biasanya timbul akibat struktur bangunan yang buruk yang tidak tahan terhadap getaran. “Selama bangunan kuat, kita sebenarnya aman berlindung di dalam ruangan," tegasnya. (inu/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Selokan Mataram #lempengan #Sesar Dengkeng #gempa #sesar mataram #tektonik #Pakar Geofisika #klaten #Sesar #gempa tektonik #sesar opak