JIKA sebuah perusahaan dibubarkan, bagi seorang karyawan ada dua pilihan. Tetap menjadi pekerja dengan berpindah ke perusahaan lain, atau berusaha mendirikan perusahaan sendiri. Pilihan kedua itu yang diambil bapak lima anak ini. Ia memilih hal itu karena harus tetap mencarikan makan untuk keluarganya. Pembubaran itu, ungkap Harsono, terjadi karena Dirut PT Punokawan kala itu BRM Herjuno Darpito (sekarang Raja Keraton Jogja Sri Sultan Hamengku Buwono X) menjadi putra mahkota. Tak ingin terjadi konflik kepentingan, dirut PT Punokawan itu akhirnya membubarkan perusahaan. "Saat itu beliau naik dari pangeran sepuh menjadi Pangeran Mangkubumi," kenang Harsono, saat ditemui di kediamannya, Sorowajan, Banguntapan, kemarin (4/9).
Ia menjelaskan, selama kurun waktu 20 tahun, ia mengabdi di perusahaan tersebut. Ia mengawali tahun 1969 sampai akhir 80-an. Selama itu ia juga menjadi abdi dalem keraton. "Tapi, saya tidak meminta gelar. Hanya abdi dalem saja," jelasnya. Ia mengaku selama menjadi karyawan perusahaan itu, banyak kepuasaan batin yang ia rasakan. Di antaranya kala mendapatkan tugas untuk mengembalikan pusara Sri Sultan HB VI. "Saya lupa tahunnya. Saat itu ada atap yang bocor, jadi kalau hujan air jatuh di pusara. Lalu, saya perbaiki," tuturnya. Di akhir pengabdiannya, Harsono kembali mendapatkan tugas tak mudah. Ia diminta mempersiapkan Keraton Kilen. Karena saat itu Pangeran Mangkubumi naik tahta menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Kondisi Keraton Kilen kala itu masih kotor. Sebab, bangunan itu lama tak digunakan. Ia pun membersihkan dan memperbaiki semua bangunan. Dari halaman sampai dapur, agar siap untuk digunakan keluarga HB X. "Lantainya tidak menggunakan keramik. Tapi tegel dari semen," lanjutnya. Tegel kemudian ia amplas dengan mesin. Ini untuk mengkilapkan lantai. "Dapur yang belum ada, dibangun untuk keperluan keluarga beliau," tambahnya. Saat mengerjakan kediaman HB X itu, ia mengungkapkan hal paling sulit adalah menyungging prodo dinding-dinding bangunan itu. Itu biasanya dilakukan abdi dalem khusus dari keraton. "Butuh tenaga teknis khusus, karena sulit menyungging prodo," tandasnya. Perbaikan pusara HB VI tak mudah. Harsono harus mengikuti prosesi adat. Mulai dari selamatan dengan ingkung dan ubo rampe. Kemudian, baru dilakukan perbaikan. "Untuk mengangkat pusara, harus ditutup dengan pasir satu truk. Pusara diderek," jelasnya.
Pengalaman lain yang paling berkesan adalah saat mengerjakan proyek di Gunungkidul. Sekitar tahun 1975, ia yang menjabat pelaksana teknis di PT Punokawan, sukses membuat jembatan pertama dan terpanjang di Gunungkidul. Ia berhasil membangun jembatan Kedung Keris dengan panjang 48 meter dan lebar enam meter. "Biayanya Rp 250 juta saat itu," ujarnya. Dengan jembatan ini, ia mengungkapkan akses ke Gunungkidul menjadi lebih mudah. Meski kondisi jalan saat itu masih tanah. "Kalau hujan, kendaraan tidak berani lewat," kelakarnya. Kini, dengan semua pengalamannya itu, Harsono mengaku banyak manfaat. Terutama dari pengalamannya menggarap bangunan keraton. Ia bisa membagi di antara anggota Gapensi Kota Jogja. "Harus disiplin. Sesuai idealisme pelaksana kontruksi, yaitu membangun sesuai spesifikasi," katanya. Ini jika bisa dilakukan, ia yakin semua proyek akan berkualitas. Bangunan akan berumur lebih lama dari perkiraan manusia. "Untuk yang muda-muda, harus ada idealisme seorang pengusaha konstruksi," ujarnya. (*/laz) Editor : Editor News