Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Lestarikan Kesenian Jathilan

Editor News • Rabu, 30 April 2014 | 15:46 WIB
Photo
Photo
*Perubahan Kostum dan Sesuaikan Cerita
JOGJA – Sejumlah pemuda yang tergabung dalam kelompok Pungjir Kudha Sancaka memiliki kepedulian terhadap kesenian jathilan di Jogjakarta. Kelompok yang berdiri dari bulan Oktober 2011 ini rutin menggelar pentas. Anggotanya pun tersebar dari seluruh Jogjakarta.
Pembina Kelompok Miskijo menghungkapkan awalnya akar kelompok ini dari Paguyuban Sorengpati. Paguyuban Sorengpati sendiri merupakan kelompok pelestari kesenian jathilan di kota Jogjakarta. Lambat laun para pemuda luar kota Jogja tertarik, dan berdirilah Kudha Sancaka.
"Ketertarikan para pemuda ini sangatlah besar terhadap kesenian jathilan. Sehingga mereka bersepakat untuk mendirikan paguyuban," katanya saat ditemui di tempat berlatih mereka, Pringgokusuman, Gedongtengen, Jogjakarta (29/4).
Ketertarikan para pemuda ini, menurut Miskijo, sudah sepatutnya diwadahi. Apalagi saat ini yang memiliki ketulusan untuk melestarikan kesenian tradisi terbilang langka. Sehingga keinginan para pemuda ini langsung direspon dengan mendirikan paguyuban.
Meski tidak menampilkan kesenian jathilan secara murni tradisi, namun Miskijo dan paguyubannya tidak menghilangkan esensinya. Tujuannya agar nilai-nilai kearifan lokal tetap tertanam meski terjadi pengembangan. Pengembangan ini sendiri, menurutnya, untuk menghadapi perubahan zaman.
Dengan adanya paguyuban ini, Miskijo juga ingin membuktikan bahwa jathilan tidak hanya milik daerah pinggiran. Kota yang identik dengan modernisasi tetap bisa melestarikan kesenian nenek moyang ini. Sehingga posisinya masih bisa bertahan bahkan berdampingan dengan kesenian kontemporer dan modern.
Misalnya beberapa gerakan ada pengembangan berdasarkan workshop yang diikuti. Namun tetap memegang teguh akar dari tradisi. Misalkan kita masih memakai Tari Oglek yang menjadi akar dari kesenian ini. "Perubahan hanya sebatas kostum dan penyesuaian cerita," kata Miskijo.
Untuk cerita sendiri, paguyuban Kudha Sancaka kerap menampilkan cerita rakyat Arya Penangsang dan Nyi Ageng Serang. Cerita-cerita rakyat ini dibalut dalam sebuah pementasan jathilan. Dengan adanya cerita ini, maka pementasan akan lebih terkonsep.
Seperti yang terlihat saat kelompok ini pentas di pelataran Taman Budaya Yogyakarta (TBY) dalam rangka pentas seni sepanjang tahun. Pementasan kali ini, Kudha Sencaka membawakan cerita Bancak Doyok. Latar belakang cerita ini adalah saat Arya Penangsang yang akan menyerang kerajaan Demak. (dwi/ila)
  Editor : Editor News