Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Waspada! Varian Superflu di Musim Hujan, Pakar Ingatkan Risiko Bagi Para Kelompok Rentan

Fahmi Fahriza • Sabtu, 17 Januari 2026 | 20:18 WIB

 

Dosen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) Prof dr Tri Wibawa.
Dosen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) Prof dr Tri Wibawa.

JOGJA – Dosen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) Prof dr Tri Wibawa menyoroti virus Influenza A(H3N2) Subclade K berpotensi menyebar di tengah musim penghujan.

Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit tersebut.

Terlebih, telah ditemukan 62 kasus yang populer disebut sebagai superflu di Indonesia, dengan kasus terbanyak dilaporkan di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.

Dari hasil pemeriksaan whole genome sequencing (WGS), varian ini diketahui telah terdeteksi sejak Agustus 2025.

Hingga Desember 2025, jumlah yang berhasil dikumpulkan mencapai 62 kasus.

Meski belum menunjukkan tingkat keparahan, potensi penyebaran virus ini tetap perlu diantisipasi, terutama di tengah kondisi cuaca yang mendukung penularan penyakit pernapasan.

Tri mengatakan, virus superflu itu memiliki perbedaan genetik dibanding virus influenza yang sebelumnya bersirkulasi.

Namun, virus ini masih memiliki kekerabatan yang dekat dengan virus flu musiman yang umum dialami masyarakat.

"Sejauh ini, belum ada bukti dari studi lab atau studi populasi varian ini bisa menghindari kekebalan tubuh manusia yang terbentuk oleh infeksi influenza sebelumnya, atau dari vaksin yang telah didapatkan," katanya, Sabtu (17/1/2026).

Dia menyebut istilah superflu bukan merupakan istilah ilmiah. Berdasarkan bukti yang tersedia hingga saat ini, belum ada indikasi bahwa Influenza A “subclade” K memiliki tingkat keganasan yang lebih tinggi dibandingkan virus influenza H3N2 lain yang telah beredar sebelumnya.

"Harus tetap waspada, karena virus influenza H3N2 memang bisa berakibat fatal pada orang yang rentan, seperti lansia," pesannya.

Lebih lanjut, virus influenza secara alami terus mengalami perubahan seiring dengan karakter materi genetik RNA yang dimilikinya.

Perubahan genetik kecil itu dapat menghasilkan varian-varian baru yang masih berkerabat dekat, namun dalam kondisi tertentu bisa memengaruhi respons sistem kekebalan tubuh manusia.

"Ada potensi akan menyebabkan sistem kekebalan manusia menjadi tidak mampu untuk melawan, dan konsekuensi lainnya, seperti penularan yang lebih cepat," terang Tri.

Memasuki musim hujan, risiko penularan influenza juga dinilai semakin meningkat.

Kondisi cuaca yang lembap, aktivitas masyarakat di ruang tertutup, serta penurunan daya tahan tubuh kerap menjadi faktor yang mempercepat penyebaran penyakit saluran pernapasan, termasuk influenza.

Untuk itu, Tri menekankan pentingnya langkah pencegahan sederhana namun efektif guna menekan risiko penularan virus.

Upaya tersebut antara lain dengan menerapkan etika batuk yang baik, menggunakan masker bagi orang yang sedang mengalami gejala flu.

"Penting juga mencuci tangan secara rutin, beristirahat cukup, serta memastikan ventilasi ruangan memadai," bebernya.

Selain itu, vaksinasi tetap menjadi salah satu langkah perlindungan utama, khususnya bagi kelompok rentan.

"Vaksin tetap dianjurkan untuk kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit kronis," sebutnya. (iza/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#superflu #musim hujan #Pakar UGM #Influenza A H3N2 subclade K