JOGJA - Hingga akhir tahun 2025, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diprediksi tidak dilanda hujan lebat hingga cuaca ekstrem yang berarti. Curah hujan tinggi baru akan terjadi mulai Januari hingga awal Maret 2026.
"Tetap melakukan antisipasi puncak musim hujan yang diprediksi terjadi di Januari dan Februari," ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY Agustinus Ruruh Haryata saat dikonfirmasi, Kamis (25/12/2025).
Berdasaekan data Badan Meteorologil Klimatologi dan Geofisika (BMKG), curah hujan sampai dengan akhir tahun ini dalam kategori ringan hingga sedang. Itu menjadi kabar yang baik bagi wisatawan untuk menikmati libur akhir tahun. Namun, ia tetap mewanti-wanti untuk tetap waspada adanya bencana hidrometeorologi.
Sebagai langkah antisipasi, pihaknya aktif mengadakan koordinasi lintas sektor untuk memetakan Sumber Daya Manusia (SDM) dan alat-alat evakuasi yang dimiliki. Sehingga, apabila terjadi bencana bisa segera memobilisasi alat maupun SDM dengan efektif dan cepat.
"Kemungkinan hingga akhir Maret atau awal April kami tetap memberlakukan status siaga darurat Hidrometeorologi," bebernya.
Ia menghimbau kepada para wisatawan supaya berhati-hati, meskipun informasi terakhir dari BMKG mengatakan wilayah DIY masih dalam kategori aman. Namun, saat memasuki curah hujan tinggi, potensi adanya lahar dingin dari Gunung Merapi menjadi perhatian khusus. BPBD Sleman juga telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk kemungkinan adanya bencana tersbut.
"Kami punya pos pendamping terakit bencana hisrometeorologi, di kabupaten/kota juga ada posko masing-masing," jelasnya.
Terpisah, Ketua Komisi A DPRD DIY Eko Suwanto mengajak masyarakat DIY untuk memaknai pergantian tahun dengan sederhana. Mengingat adanya keprihatinan adanya bencana di berbagai daerah.
"Pemprov DIY dan kabupaten kota penting menjamin keamanan, ketentraman ban kenyamanan saat berlibur ke Jogja termasuk berkoordinasi dengan instansi vertikal," ujarnya.
Ia meminta BPBD DIY berkoordinasi bersama dinas terkait untuk pendampingan sekaligus memastikan seluruh wisata DIY punya standar mitigasi yang cukup. Baik di pesisir pinggir pantai hingga kawasan Merapi.
"Berikan informasi, agar masyarakat pahami kondisi hidrometeorologi. Cek tempat wisata punya mitigasi bencana apa belum," bebernya.
Wisatawan juga diminta untuk menyusun rencana perjalanan dengan matang. Hal itu sekaligus untuk memetakan lokasi tujuan wisata dengan prediksi cuaca pada tanggal mereka mengunjunginya.
"Jadi bisa berwisata dengan perencanaan yang baik. Malioboro cuaca bagaimana di Kaliurang dan pantai Parangtritis seperti apa," tandasnya.
Ia juga mengimbau agar masyarakat memperhatikan tujuan wisata mereka. Misalnya di Kawasan Merapi dengan level status Siaga 3. Agar paham dan memitigasi bencana dengan beraktivitas di area jarak aman.
"Kalau memang tidak aman, masyarakat harus diingatkan jangan karena ingin dapat foto bagus mengorbankan keselamatan," jelasnya. (Oso)
Editor : Iwa Ikhwanudin