JOGJA - Kebijakan efisiensi anggaran tahun depan yang berdampak di daerah menjadi kekhawatiran bagi pengusaha perhotelan. Potensi wisatawan mancanegara pun mulai dilirik, sebagai langkah antisipasi jika wisatawan domestik menurun.
Direktur Kluster Penjualan & Pemasaran Carani Hotel Yogyakarta Randa Noah Bramiko mengatakan, tahun 2026 memang akan menjadi tahun yang sangat menantang bagi usaha perhotelan. Lantaran berbagai sektor bakal menghadapi penghematan besar-besaran imbas efisiensi anggaran.
Randa memprediksi, kondisi tersebut dapat menurunkan minat wisatawan domestik melakukan kunjungan wisata dan menginap di hotel. Oleh karena itu, pihaknya mulai menyiapkan strategi menarik wisatawan mancanegara.
“Kami akan mencoba market-market seperti Malaysia dan memperluas jangkauan pasar internasional,” ujar Randa saat dalam sebuah kegiatan hotel, Rabu (17/12/2025).
Dia menyebut, kolaborasi lintas sektor juga menjadi hal penting untuk menghadapi situasi penghematan anggaran. Sehingga pihaknya mulai membuka kerjasama dengan travel agent dan korporasi agar dapat mendongkrak okupansi kamar hotel.
Selain itu, Randa juga mulai berkolaborasi dengan pelaku seni dan budaya. Sebab menurutnya, sektor perhotelan juga memiliki peran untuk mempromosikan berbagai potensi yang mungkin disukai oleh wisatawan.
“Kota Jogja adalah kota budaya, jadi itu yang kami terus eksposur,” bebernya.
Sementara untuk situasi hotel di DIY pada momen libur akhir tahun.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY Deddy Pranowo Eryono menyebut mulai ada peningkatan. Bahkan pihaknya optimistis okupansi kamar dapat menyentuh 85 persen.
Dia membeberkan, okupansi hotel sudah menyentuh kisaran di atas 50 persen.
Bahkan juga mulai merambah hotel-hotel yang jauh dari pusat kota seperti di Bantul, Gunungkidul hingga Kulonprogo.
“Kami yakin okupansi menyentuh target 85 dengan lama menginap dua hari untuk seluruh DIY, baik itu di hotel bintang tiga sampai lima,” sebut Deddy. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin