JOGJA - Meskipun sudah memasuki musim penghujan, cuaca panas terik cukup terasa di DIY dalam beberapa hari terakhir.
Berdasar rilis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta, hal itu karena pengaruh bibit siklon 91S dan 93S.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, bibit siklon 93S terpantau berada di selatan Pulau Bali.
Sementara untuk bibit siklon 91 berada di barat daya Pulau Sumatera.
Meskipun tidak berada di wilayah DIY, Reni menyebut aktivitas dua siklon itu cukup banyak menarik awan hujan dari Pulau Jawa.
Sehingga berdampak pada menghilangnya hujan dalam beberapa hari terakhir. Kalaupun ada, intensitasnya bakal rendah hingga sedang.
“Kondisi ini juga membuat pola angin wilayah DIY menjadi daerah netral tanpa awan hujan, serta angin permukaan bertiup relatif kencang,” ujar Reni saat dikonfirmasi lewat sambungan telepon, Jumat (12/12/2025).
Selain itu, kondisi cuaca cerah di tengah kontur tanah yang masih cukup basah juga membuat suhu udara meningkat.
Sebab kelembapan udara menjadi tinggi dan membuat udara terasa panas serta gerah.
Berdasarkan pengamatan BMKG Yogyakarta selama sepuluh hari terakhir, suhu tertinggi tercatat pada 2 Desember 2025 dengan angka 32,4 derajat celcius. Serta pada 10 Desember 2025 dengan suhu 31,6 derajat celcius.
Baca Juga: Napak Tilas Menyelami Spirit KAA 1955, Komisi A DPRD DIY Kunjungi Gedung Merdeka Bandung
Meskipun cukup panas, Reni menilai capaian suhu pada Desember belum melampaui rekor suhu terpanas sepanjang di Yogyakarta.
Lantaran suhu tertinggi yang pernah dicatat tercatat berada di angka 33,5 derajat celcius pada 2023 lalu.
“Kami mengimbau masyarakat untuk mengambil langkah pencegahan dengan menjaga imunitas tubuh dan mencukupi kebutuhan cairan,” pesannya.
Baca Juga: Bukan Cuma Gudeg, Ini Deretan Kuliner Legendaris Yogyakarta yang Ramai Diserbu Saat Nataru
Sementara itu, Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Jogja Darmanto mengaku sudah menyiapkan langkah mitigasi.
Sebab berdasarkan prediksi BMKG aktivitas siklon juga meningkatkan potensi bencana hidrometeorologi.
Dia menyatakan, kepala daerah di Kota Jogja juga sudah menerbitkan SK Wali Kota Nomor 455 Tahun 2025 tentang perpanjangan penetapan status siaga darurat bencana banjir, talut longsor, dan cuaca ekstrem. Keputusan tersebut berlaku hingga akhir Desember mendatang.
“Koordinasi antarlembaga, relawan, dan masyarakat bakal diperkuat. Sekaligus mengintensifkan informasi dan himbauan tentang potensi bencana,” ungkapnya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita