Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Impor Bahan Baku Naik, Ekspor Pakaian Masih Jadi Komoditas Andalan di Yogyakarta

Fahmi Fahriza • Minggu, 7 Desember 2025 | 04:32 WIB
Ilustrasi industri pakaian di Jawa.
Ilustrasi industri pakaian di Jawa.

JOGJA - Kinerja ekspor di DIY menunjukkan tren positif sepanjang Januari hingga Oktober 2025, meski terjadi tekanan pada kinerja bulanan Oktober.

Total nilai ekspor DIY hingga Oktober 2025 mencapai 460,44 juta dolar AS atau tumbuh 5,68 persen dibanding periode yang sama pada 2024.

Statistisi Utama Badan Pusat Statistik (BPS) DIY Sentot Bangun Widoyono menyampaikan, sektor industri pengolahan masih menjadi penopang utama aktivitas ekspor.

"Sektor industri pengolahan berkontribusi sebesar 99,14 persen selama periode Januari hingga Oktober 2025," jelasnya, Sabtu (6/12/2025).

Namun secara tahunan pada Oktober 2025, nilai ekspor justru melemah. Ekspor bulan itu tercatat 45,37 juta dolar AS, turun 7,05 persen dibanding Oktober 2024.

Penurunan ini terutama dipicu oleh merosotnya kinerja industri pengolahan. 

"Nilai ekspor industri pengolahan turun 7,71 persen pada Oktober 2025 secara tahunan dengan andil 98,66 persen dari total ekspor DIY ," kata Sentot.

Produk unggulan yang masih mendominasi pangsa ekspor DIY , antara lain, pakaian bukan rajutan, barang dari kulit samak, serta pakaian rajutan.

Amerika Serikat menjadi pasar terbesar dengan nilai ekspor 198,46 juta dolar AS, didorong ketiga komoditas tersebut.

Pada sisi impor, pergerakan juga menunjukkan pola serupa, kenaikan kumulatif tetapi penurunan pada Oktober.

Total nilai impor DIY hingga Oktober 2025 mencapai 144,81 juta dolar AS, naik 5,77 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. 

"Peningkatan ini didominasi impor bahan baku atau penolong, yang memberi andil 89,10 persen," ungkap Sentot.

Meski demikian, impor pada Oktober 2025 tercatat turun tipis 0,39 persen menjadi 15,25 juta dolar AS, terutama akibat melemahnya impor bahan baku.

Kain rajutan serta kain tekstil berlapis/laminasi tercatat meningkat, sementara filamen buatan mengalami penurunan.

Tiongkok masih menjadi negara asal impor terbesar dengan nilai 56,22 juta dolar AS, disusul Hongkong (27,28 juta dolar AS) dan Amerika Serikat (24,13 juta dolar AS).

Tiga negara itu memasok berbagai jenis bahan baku tekstil hingga mesin.

Meski terjadi fluktuasi bulanan, DIY tetap mencatat surplus perdagangan sepanjang Januari hingga Oktober 2025.

Sentot menegaskan kondisi itu mengindikasikan tren perbaikan dibanding tahun sebelumnya. 

"Secara umum DIY masih mengalami surplus neraca perdagangan selama Januari-Oktober 2025. Kondisi ini menunjukkan ada kenaikan dibanding periode yang sama tahun lalu," ujarnya. (iza/laz)

 

 

Editor : Herpri Kartun
#Ekspor DIY #Badan Pusat Statistik #baju #impor #ekspor #pakaian rajutan #Yogyakarta #bps #pakaian #Jogja #komoditas