JOGJA – Pemkot Jogja mendengarkan aspirasi masyarakat yang protes saat uji coba penerapan full pedestrian di Malioboro, Senin-Selasa (1-2/12). Di antaranya soal penutupan kawasan Titik Nol Kilometer.
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengatakan, penutupan Nol Kilometer sejatinya bukan menjadi bagian dari mewujudkan Malioboro full pedestrian. “Kemarin itu karena ada kepentingan untuk melakukan kegiatan di Titik Nol. Ke depan uji coba-uji coba akan tetap seperti yang lalu-lalu,” ujar Hasto saat ditemui di Pasar Prawirotaman, Rabu (3/12).
Sebagai informasi, uji coba Malioboro sebagai kawasan full pedestrian dengan menutup simpang empat Nol Kilometer lalu menimbulkan dampak kemacetan. Penutupan mulai dari simpang empat Gondomanan, simpang tiga RSU PKU Muhammadiyah dan simpang tiga Alun-alun Utara.
Mantan Kepala BKKBN itu mengakui, dampak dari penutupan simpang empat Nol Kilometer memang membuat kemacetan panjang. “Tapi akses bagi kendaraan darurat maupun warga sekitar tetap bisa lewat,” ungkapnya.
Terkait keluhan warga, Hasto memastikan, untuk uji coba Malioboro sebagai kawasan full pedestrian ke depan pihaknya tidak akan lagi menutup simpang empat Nol Kilometer.
“Kami menutup Titik Nol itu hanya kalau ada kepentingan yang sangat-sangat urgent. Kalau enggak, ya, enggak (ditutup),” tegasnya.
Untuk diketahui, penutupan simpang empat Nol Kilometer di tanggal 1-2 Desember 2025 lalu saat ada agenda Malioboro Culture Vibes. Program tersebut menampilkan sejumlah kegiatan atraksi seni budaya dan talk show. Bahkan digadang-gadang oleh Dinas Kebudayaan Kota Jogja sebagai langkah mewujudkan kawasan Malioboro yang tertib dan berbudaya.
Namun karena hal tersebut, sejumlah ruas jalan penyangga Malioboro dikepung oleh kemacetan. Misalnya di ruas Jalan Letjen Suprapto, Jalan Pasar Kembang, Jalan Jlagran Lor, Jalan Bhayangkara, Jalan KH Ahmad Dahlan, hingga simpang empat Wirobrajan.
Baca Juga: Ikatan Darah Meneror Jogja, Film Aksi Brutal Rasa Lokal Pukau Penonton di JAFF 2025
Kondisi tersebut pun tidak lepas dari keluhan masyarakat, salah satunya Rama yang merupakan warga Kelurahan Ngupasan, Gondomanan, Kota Jogja. Ia menilai kemacetan panjang sangat menyulitkan aktivitasnya.
Sebab diterapkan pada saat hari kerja.“Saya berharap pemerintah bisa menyiapkan antisipasi kemacetan, sebab kalau kondisinya seperti sangat menyusahkan warga,” beber Rama. (inu/pra)
Editor : Heru Pratomo