JOGJA - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja mencatat sudah ada 249 kasus demam berdarah dengue (DBD). Jumlah kasus diprediksi meningkat pada puncak musim penghujan.
Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinkes Kota Jogja Endang Sri Rahayu mengatakan, puncak musim penghujan akan terjadi pada Januari-Februari 2026. Saat itu, kelembapan akan meningkat dan dapat menciptakan kondisi ideal nyamuk Aedes aegypti berkembang biak.
Baca Juga: Ahmad Luthfi Komitmen Berikan Pemberdayaan Kepada Perempuan
"Oleh karenanya, perlu dilakukan upaya pencegahan secara masif dan serentak agar kasus tidak melonjak drastis," pesan Endang saat dikonfirmasi lewat pesan singkat Rabu (12/11).
Endang menyebut, pencegahan DBD hanya bisa dilakukan lewat pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Serta gerakan satu rumah juru pemantau jentik (jumantik) pada lingkungan tempat tinggal.
Sementara untuk fogging, menurutnya cenderung kurang efektif. Lantaran hanya membunuh nyamuk dewasa dan tidak memberantas jentik. Serta cenderung lebih banyak memberi dampak negatif.
“Fogging menjadi senjata terakhir, dan sebenarnya tidak jadi pilihan,” jelas Endang.
Sementara itu, Kepala Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jogjakarta Reni Kraningtyas menyebut, intensitas hujan akan meningkat. Lantaran kondisi atmosfer mendukung untuk pertumbuhan awan hujan.
Reni mengungkap, peningkatan hujan didukung oleh aktifnya Monsun Asia dan fenomena La Nina lemah yang bertahan hingga Februari. Sehingga puncak musim penghujan diprediksi terjadi pada dua bulan pertama di tahun 2026.
“Kami mengimbau pemerintah daerah dan seluruh masyarakat lebih siap dan antisipatif terhadap dampak musim hujan,” katanya. (inu/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita