Terutama mengisi sejumlah posisi kepala organisasi perangkat daerah (OPD) yang kosong. Meski pernah dikritisi Gubernur DIY Hamengku Buwono X gara-gara pelaksanaan talent pool dinilai cenderung tertutup dan tidak transparan, dalam empat kali pengisian jabatan pemprov justru terus mempertahankan talent pool.
Hanya di masa Sekprov DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti ada yang berbeda dengan tiga kali pelantikan sebelumnya. Empat orang pejabat yang mengalami promosi dan dilantik Gubernur Hamengku Buwono X semuanya muka baru.
"Sudah menjadi mahfumnya, dalam perjalanan birokrasi menghadapi tantangan perbedaan cara pandang antargenerasi," ujar HB X di Bangsal Kepatihan, kemarin (3/11).
Merek yang dipromosikan itu belum pernah ikut lelang eselon dua. Karena itu, namanya belum pernah tercatat pernah gagal ikut seleksi jabatan. Satu kali, dua kali atau tiga kali seperti beberapa pejabat lainnya.
Ini berbeda dengan pelantikan pada Desember 2024 dan Februari serta September 2025 lalu. Sejumlah pejabat yang dipromosikan ke eselon II/b dan II/a dalam tiga kali pelantikan itu, rata-rata pernah ikut lelang jabatan. Namun mereka gagal. Baru bisa promosi setelah kran talent pool dibuka.
Adapun empat pejabat yang promosi itu adalah Nuri Achadiyanti, Agustinus Ruruh Haryata, Gregorius Anung Trihadi, dan Agnes Dhiany Indria Sari. Nama pertama Nuri semula merupakan fungsional penata perizinan ahli madya Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PMPTSP) DIY. Nuri mendapatkan promosi sebagai kepala biro tata pemerintahan.
Kedua, Ruruh Haryata. Jabatan, kepala bidang penataan, pengkajian dan pengembangan kapasitas lingkungan hidup Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY. Ruruh promosi menjadi kepala pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY.
Selanjutnya ketiga, Anung Trihadi. Dari kepala bidang pelayanan kesehatan dinas kesehatan promosi sebagai kepala dinas kesehatan.
Keempat, Agnes yang awalnya kepala Balai Pengolaan Terminal dan Perparkiran Dinas Perhubungan DIY. Kini Agnes promosi sebagai kepala Biro Pengembangan Infrastruktur Wilayah dan Pembiayaan Pembangunan (PIWPP) Setprov DIY.
Munculnya nama Agnes mengundang atensi beberapa sejawatnya sesama ASN. Agnes meniti karir dari bawah. Bahkan dalam beberapa kesempatan karirnya kerap beriringan dengan Ni Made Dwipanti Indrayanti yang sekarang Sekprov DIY.
Contohnya, saat Ni Made menjadi kepala biro perekonomian dan sumber daya alam (SDA), Agnes menjadi salah satu kepala seksi di biro tersebut. Berlanjut ketika Ni Made mengepalai dinas perhubungan,. Agnes menjadi salah satu kepala unit pelaksana teknis (UPT) dinas perhubungan.
Karir Agnes makin moncer saat Ni Made menjabat Sekprov. Kini mantan sekretaris Satpol PP itu menjadi salah satu kepala biro langsung di bawah Sekprov.
Bersamaan dengan promosi itu, lima orang kepala OPD dimutasi. Lima orang itu adalah Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) Kurniawan digeser menjadi Paniradya Pati Kaistimewaan DIY. Posisi kepala DPAD diisi Syam Arjayanti. Semula Syam mengepalai dinas pertanian dan ketahanan pangan (DPKP).
Kursi yang ditinggalkan Syam digantikan Aris Eko Nugroho yang sebelumnya Paniradya Pati Kaistimewan DIY. Mutasi sekaligus promosi dialami Danang Setiadi. Sejak Januari 2025, Danang menjabat kepala biro tata pemerintahan. Kini Danang menjadi kepala Bapperida menggantikan Ni Made yang naik menjadi Sekprov.
Mutasi yang mengejutkan dialami Noviar Rahmad. Kepala BPBD itu secara tak terduga digeser menjadi staf ahli gubernur bidang ekonomi dan pembangunan. Penempatan Noviar sebagai staf ahli itu mengubah tradisi.
Konvensi selama ini pejabat yang dijadikan staf ahli usia pensiunnya tinggal setahun atau paling lama dua tahun. Sedangkan masa pengabdian Noviar tergolong masih panjang. Mantan Kasat Pol PP DIY yang banyak mengungkap kasus penyimpangan tanah kas desa itu baru pensiun 1 November 2030.
Masih lima tahun lagi. Selain itu, tiga staf ahli yang membantu gubernur sebelumnya yakni Kuncoro Cahyo Aji, Sukamto dan Didik Wardaya semuanya doktor. Sedangkan Noviar menyandang gelar doktorandus. Belum doktor.
Di bagian lain, usai melantik, HB X menyampaikan beberapa pesan. Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat itu menyoroti pola budaya dinamis dan pergantian generasi. Menurut HB X, itu merupakan tantangan, namun juga peluang jika tepat menyikapinya.
Generasi senior, membawa kebijaksanaan yang ditempa pengalaman panjang. Sedangkan Generasi Z, tumbuh dalam derasnya arus digital. Berpikir cepat, terbiasa pada data, dan menuntut makna di balik setiap kebijakan.
"Tersimpan peluang besar saling melengkapi. Yang tua mentransfer nilai, yang muda menyalakan inovasi. Ketika pengalaman berpadu dengan keberanian, dan kearifan bertemu dengan kreativitas, lahirlah birokrasi yang tidak hanya efisien, tapi juga relevan, adaptif, dan visioner," papar HB X. (oso/kus/laz)
Editor : Herpri Kartun