JOGJA - Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja melakukan inspeksi terhadap kuda-kuda yang dioperasionalkan sebagai kendaraan wisata di kawasan Malioboro pada Jumat (25/4/2025).
Meskipun kuda-kuda dipastikan dalam kondisi sehat, diketahui ada beberapa dioperasikan walupun kondisinya tengah bunting.
Kepala Bidang Perikanan dan Kehewanan Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kota Jogja Sri Panggarti mengatakan, pemeriksaan kuda tersebut bertujuan untuk memastikan kondisi kesehatan hewan.
Sekaligus menjadi sarana edukasi bagi kusir untuk memastikan kondisi hewan peliharaannya.
Panggarti menyebut, total ada 421 kuda yang menjadi sasaran pemeriksaan tersebut.
Kegiatan pemeriksaan itu dilakukan secara gratis dan bertahap dalam beberapa hari terakhir.
Adapun sasaran pemeriksaan meliputi kondisi fisik seperti kulit, kaki, hingga paru-paru.
Selama pemeriksaan, DPP Kota Jogja tidak menemukan kuda yang menderita penyakit serius.
Adapun penyakit kuda mayoritas masuk kategori ringan.
Misalnya seperti jamur karena kondisi bulu yang lembab dan kaki lecet yang disebabkan bergesekan dengan sepatu.
Sehingga penanganannya pun hanya diberikan salep.
“Kami juga berikan obat cacing dan vitamin bagi kuda, namun untuk obat cacing tidak disarankan diberi pada kuda yang kondisinya bunting,” ujar Panggarti di sela pemeriksaan.
Salah satu dokter hewan yang ikut dalam pemeriksaan, Imam Abror, mengungkap ada sejumlah kuda di Malioboro yang kondisinya tengah bunting.
Sehingga dia menyarankan kepada kusir atau pemilik kuda agar mengandangkan hewan peliharaannya ketika usia kehamilan sudah menyentuh sembilan bulan.
Dikatakan Imam, rata-rata usia kehamilan kuda biasanya mencapai 11 bulan.
Oleh karena itu, sebelum memasuki masa-masa melahirkan ada baiknya kuda tidak dioperasikan sebagai penarik andong terlebih dahulu.
Selain temuan kuda bunting, sejauh ini kuda-kuda di Malioboro menurutnya dalam kondisi sehat.
“Kesadaran kusir sudah sangat bagus."
"Saran kami hanya rutin mengecek kesehatan kuda,” pesannya.
Sementara itu, salah satu kusir Februdi Purnomo mengakui, kuda yang dioperasikannya memang dalam kondisi bunting enam bulan.
Dia pun memahami tentang larangan agar tidak mengoperasikan kuda bunting ketika memasuki usia kehamilan sembilan bulan.
Februdi berjanji, akan mengistirahatkan kudanya ketika usia kehamilan memasuki delapan bulan.
Dia juga memastikan bahwa setiap andong juga telah memiliki setidaknya tiga sampai empat ekor kuda pengganti.
“Kami sudah memahami betul kapan kuda harus mulai diistirahatkan,” katanya. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin