Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pembuatan Seribu Apem di Jalan Sosrowijayan Jogja, Tradisi Rutin Ruwahan yang Sarat Makna Jelang Ramadhan

Agung Dwi Prakoso • Jumat, 21 Februari 2025 | 20:10 WIB
Warga Sosromenduran, Gedongtengen, Jogja dan sekitarnya menggelar tradisi Ublak Jladren yang merupakan bagian dari upacara adat Apeman di Jalan Sosrowijayan, Gedongtengen, Jogja, Jumat (21/2/2025).
Warga Sosromenduran, Gedongtengen, Jogja dan sekitarnya menggelar tradisi Ublak Jladren yang merupakan bagian dari upacara adat Apeman di Jalan Sosrowijayan, Gedongtengen, Jogja, Jumat (21/2/2025).

JOGJA - Warga Sosromenduran, Gedongtengen, Jogja dan sekitarnya menggelar tradisi Ublak Jladren yang merupakan bagian dari upacara adat Apeman di Jalan Sosrowijayan, Gedongtengen, Jogja, Jumat (21/2/2025) pagi. Seribu apem akan diproduksi untuk membuat gunungan apem yang akan diarak dalam upacara adat atau tradisi Ngapem Ruwahan. 

Sejak pukul 08.00 warga sekitar Jalan Sosrowijayan khususnya para ibu-ibu disibukkan dengan kegiatan pembuatan apem. Puluhan tenda berjajar yang disiapkan panitia Sarkem Fest 2025 digunakan ibu-ibu sebagai dapur untuk memasak apem secara langsung. Para pengunjung dan pengendara bisa melihat secara langsung proses pembuatan apem, bahkan bisa mencicipi dalam kondisi hangat setelah diangkat dari cetakan. 

Ketua Panita Acara Ipung Purwandari mengatakan tradisi tersebut telah berlangsung lama dan rutin diselenggarakan setiap tahun. Tradisi tersebut diadakan untuk menyambut bulan Ramadhan, tepatnya pada bulan ruwahyatau bulan Syaban. 

Tradisi pertama yang biasa dilakukan ibu-ibu, yakni ubak jladren atau pembuatan adonan apem secara bersama-sama. Menurutnya, tradisi tersebut mengandung makna yang mendalam. Jladren berasal dari kata Jaladri, dalam bahasa sansekerta artinya lautan yang secara visual cair dan bergelombang. 

"Maknanya, pembuat jladren diharapkan memilik kesabaran yang luas seperti lautan," ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (21/2/2025). 

Masyarakat yang terlibat yakni satu kelurahan yang terdiri dari 45 RT. Total ada sekitar 225 masyarakat yang mengikuti acara, karena setiap RT minimal ada perwakilan lima orang. 

"Ini bentuk rasa syukur kami terhadap Tuhan dan menyambut Ramadhan," tuturnya. 

Menurutnya kue apem memiliki makna dan simbol penting bagi masyarakat Jawa. Hal itu terbukti pada penyertaan apem dalam acara-acara adat seperti syukuran maupun selametan. Apem diambil dari bahasa Arab Afuun yang berarti ampunan. 

"Menjelang Ramadhan harapannya masyarakat bisa saling memaafkan dan memberi ampunan," terangnya. 

Dalam gunungan tersebut juga disertakan beberapa macam makanan tradisional seperti kolak dan ketan. Tentunya makanan tersebut juga sarat akan makna. Kolak yang berasal dari bahasa Arab yaitu Khalik yang berarti Sang Pencipta atau Allah SWT. Makanan kolak biasanya manis sebagai simbol dan harapan agar diberikan kehidupan yang manis dari sang pencipta. 

Baca Juga: Dikecam oleh Pejabat! Inilah Makna Tersembunyi Lukisan “Tikus dalam Burung Garuda” Karya Pelukis Rokhyat

"Sedangkan Ketan berasal dari kata Kemutan yang berarti teringat. Maknanya adalah agar kita selalu ingat dengan Allah SWT," jelasnya. 

Salah satu warga Gedongtengen, Noviana mengatakan dirinya telah melakukan persiapan pembuatan apem sejak pukul 07.30. Menurutnya tradisi tersebut dinanti oleh masyarakat. Selain seru, juga sebagai ajang silaturahmi warga. 

"Ini saya buat dua kilo adonan, satu kilo itu 60 apem, berarti sekitar 120 apem," ujarnya. 

Di dalam tenda, sekitar lima hingga tujuh orang ibu-ibu sibuk berbagi tugas untuk membuat apem. Mereka berkelompok berdasarkan RT masing-masing. 

"Nanti untuk gunungan seribu apem yang akan diarak sore nanti," tuturnya. 

Menurutnya proses pembuatan apem tidak sulit. Hanya saja pembuatan adonan memerlukan waktu lebih lama dibandingkan saat penggorengan. 

"Buat adonan total bisa 3 jam karena harus didiamkan dulu agar mengembang," terangnya. (oso) 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#ruwah #Jelang #apem #ramadhan