Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pengecer Gas Melon di Kota Jogja Enggan Berubah Jadi Pangkalan, Ini Alasannya !

Agung Dwi Prakoso • Rabu, 5 Februari 2025 | 09:20 WIB

 

 

gas melon yang berada di tingkat pengecer wilayah Kota Jogja
gas melon yang berada di tingkat pengecer wilayah Kota Jogja

JOGJA - Pengecer gas melon atau LPG 3 kg di Kota Jogja mengaku enggan berubah status menjadi pangkalan. Hal ini berkaitan dengan permodalan. "Jadi pangkalan itu perlu modal. Setidaknya harus siap uang puluhan juta untuk jadi pangkalan," kata pengecer gas melon di Kota Jogja, Adin Selasa (4/1/2025).

Kaitan dengan permodalan, apabila kebijakan tersebut diberlakukan, dirinya berharap pemerintah bisa membantu dari segi permodalan. Baik dengan sistematika pinjaman minim bunga atau dengan cara lainnya.

"Pemerintah jangan sampai hanya mengeluarkan kebijakan saja. Tapi sebaiknya juga harus menemukan solusi permasalahan di lapangan," jelasnya.

Ia menilai peran pengecer relatif membantu pangkalan selama ini. Pangkalan juga akan kelimpungan ketika stok elpiji 3 kg di tempatnya tidak cepat habis. Itu akan berpengaruh pada jumlah stok gas melon yang akan dikirimkan di waktu selanjutnya.

"Pengecer membantu menghabiskan stok gas di pangkalan. Kalau tidak habis, ke depan jatah stok akan dikurangi. Contoh tadinya dikirim 80 cuma laku 50 ya, selanjutnya stok 50," terangnya.

Menurutnya, teknis pengiriman gas dari agen ke pangkalan tergantung jumlah tabung gas yang kosong. Gas akan dikirim oleh agen setelah pangkalan melakukan pembayaran H-2 atau H-3 sebelum pengiriman. "Bisa seminggu sekali hingga tiga kali, tergantung penjualan," ujarnya.

Adin sendiri setiap hari berjualan semacam warung kelontong kecil yang menjual makanan dan bahan pokok. Sekitar 12 tahun ia menjadi pengecer elpiji 3 kg dan menjualnya ke masyarakat. "Dari tahun 2013, awalnya dari 10 tabung lalu bisa sekitar 20 tabung sekarang," tuturnya.

Sementara itu, salah satu pemilik pangkalan gas melon di di Sleman yang tidak mau disebutkan namanya menambahkan, modal awal untuk menjadi pangkalan cukup banyak. Bahkan ia harus berutang kepada bank sebesar Rp 60 juta sebagai modal. "Rp 60 juta itu sebagai modal awal aja, saya angsur empat tahun," keluhnya.

Sistem pengadaan elpiji 3 kg seminggu sekali dikirim oleh distributor menggunakan truk ke pangkalan miliknya. Misal pengiriman hari Jumat, minimal hari Rabu atau Kamis ia sudah harus transfer ke pihak penyedia sesuai jumlah gas yang akan diterima. "Nek rung TF (transfer) ya ra diduni gas e (kalau belum transfer ya tidak dikirim gasnya)," bebernya.

Terpisah, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY Yuna Pancawati tidak menampik adanya permasalahan permodalan bagi para pengecer LPG 3 kg yang akan naik kelas menjadi pangkalan. Maka dari itu, ia juga akan mempersiapkan skenario-skenario seperti mengatakan dengan pinjaman lunak apabila kebijakan tersebut diberlakukan.

"Kan sudah banyak lembaga jasa keuangan (LJK) semacam kredit usaha rakyat (KUR), cuma pengecer mau ndak. Kami juga tidak bisa (memaksa)," jelasnya. (oso/laz)

 
Editor : Sevtia Eka Novarita
#ljk #pangkalan #Kota Jogja #pengecer #stok elpiji #pengecer elpiji #kredit usaha rakyat (kur) #DIY #modal #lembaga jasa keuangan #dinas perindustrian dan perdagangan #lpg 3 kg #gas melon #Disperindag