JOGJA – Diskon tarif listrik sebesar 50 persen yang diterapkan pemerintah pusat memberi andil cukup besar terhadap deflasi Provinsi DIY pada Januari 2025.
Deflasi tercatat tak hanya secara bulanan atau month-to-month (mtm), tetapi juga secara tahun kalender atau year-to-date (ytd).
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY Herum Fajarwati mengatakan, diskon tarif listrik yang berlangsung Januari dan Februari 2025 kepada pelanggan rumah dengan beban di bawah 2.200 VA memiliki andil yang besar terhadap deflasi.
Terlebih, komoditas listrik pada konsumsi masyarakat di DIY cukup tinggi. Sehingga membuat deflasi pada Januari 2025 cukup dalam O,02 persen.
“Ya, komoditas listrik memberi andil deflasi sebesar 1,25 persen. Bulan Maret nanti akan kembali ke kondisi normal lagi,” katanya, Senin (3/2).
Dia menuturkan, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) tidak bisa mengantisipasi kebijakan pemerintah. Selain itu, di tingkat nasional juga terjadi deflasi.
Diharapkan kebijakan ini bisa memberikan dampak positif, khususnya terhadap ongkos produksi untuk komoditas tertentu.
“Masyarakat sebagian besar konsumsi 2.200 VA ke bawah," ujarnya.
BPS mencatat Provinsi DIY mengalami deflasi sebesar 0,35 persen pada bulan Januari 2025 secara bulanan atau month-to-month (mtm).
Secara tahun kalender atau year-to-date (ytd) juga terjadi deflasi sebesar 0,35 persen. Sementara inflasi secara tahunan atau year-on-year (yoy) sebesar 0,95 persen.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, deflasi disebabkan oleh kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga.
“Mengalami deflasi 6,73 persen dan memberikan andil deflasi 1,15 persen,” jelasnya.
Dia menjelaskan, komoditas listrik memberi andil deflasi sebesar 1,25 persen. Diikuti tarif kereta api 0,02 persen.
Sementara bawang merah, timun, dan angkutan antarkota masing-masing memberi andil deflasi 0,01 persen.
Sementara itu, komoditas yang menghambat deflasi adalah cabai merah dengan andil inflasi 0,13 persen, cabai rawit dengan andil inflasi 0,12 persen, wortel dan cabai hijau dengan masing-masing memberikan andil inflasi 0,05 persen, lalu kontrak rumah dengan andil inflasi 0,04 persen.
Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, terjadi deflasi 0,76 persen secara bulanan di tingkat nasional.
Deflasi bulanan pada Januari 2025 ini merupakan deflasi pertama setelah September 2024.
Kelompok penyumbang deflasi bulanan terbesar adalah dari kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga yang deflasinya sebesar 9,16 persen.
Kelompok ini memberikan andil deflasi sebesar -1,44 persen.
“Komoditas yang dominan menjadi pendorong deflasi kelompok ini adalah tarif listrik yang andilnya terhadap deflasi sebesar 1,47 persen,” katanya. (tyo/wia)