JOGJA - Tren fotografi pribadi saat ini semakin berkembang pesat, seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya mengabadikan momen hidup melalui foto. Namun, fenomena itu menyisakan pro dan kontra bagi para praktisi fotografi.
Dosen Fakultas Seni Media Rekam (FSMR) Institusi Seni (ISI) Yogyakarta Novan Jemmi Andrea mengatakan, fenomena meningkatnya penggunaan jasa fotografer pribadi pada acara seperti wisuda, ulang tahun, dan berbagai momen penting lainnya memiliki dua sisi.
"Satu sisi, semakin banyak orang menyadari pentingnya mendokumentasikan perjalanan hidup mereka. Foto kini menjadi bagian sangat penting dalam setiap peristiwa hidup," kata Novan Jemmi Andrea pada Jumat (6/12/2024).
Namun, dia juga mengungkapkan adanya pergeseran cara pandang masyarakat terhadap foto itu sendiri. Dulu, foto merupakan momen sakral yang menunggu lama untuk diproses dan hanya dipajang di rumah.
"Sekarang, foto bisa langsung diambil, diedit, dan dibagikan ke media sosial dalam hitungan detik," ucap Asesor Bidang Fotografi, Lembaga Sertifikasi Profesi ISI Yogyakarta itu.
Hal tersebut, menurutnya, membuat hasil kualitas foto kurang dihargai, meskipun fotonya penting bagi individu yang mengabadikan.
Pergeseran ini turut memengaruhi cara orang memilih fotografer. Sekarang tidak sedikit orang lebih memilih harga murah daripada kualitas profesional.
"Terkadang, orang lebih melihat harga dibandingkan kualitas. Mereka pikir asal foto terlihat bagus, sudah cukup," terang anggota Pewarta Foto Indonesia ini.
Padahal, kata dia, hasil foto profesional memiliki kualitas lebih, bukan hanya sekadar foto untuk dipamerkan di media sosial.
Di sisi lain, eks Fotografer Koran Seputar Indonesia berharap ke depan jasa fotografi pribadi tidak hanya dipandang sebagai sumber penghasilan semata, tetapi juga sebagai sarana meningkatkan keahlian.
"Para fotografer perlu terus meningkatkan keterampilan, baik dari sisi teknis maupun estetika, agar dapat memberikan hasil lebih bernilai bagi klien," ujarnya.
Masalah lain yang muncul adalah ketidakjelasan tarif jasa fotografi. Harga sering kali ditentukan berdasarkan interaksi dengan klien, bukan dari standar yang jelas dari para profesional.
"Ini menyebabkan kesepakatan harga seringkali tidak adil bagi fotografer," bebernya.
Alumnus Ilmu Komunikasi, Konsentrasi Jurnalistik Universitas Pembangunan Nasional 'Vereran' (UPN) Yogyakarta berpandangan, kesepakatan harga lebih formal dan transparan di kalangan para fotografer sangat penting.
Pertimbangannya ada banyak fotografer baru hanya mengandalkan pengalaman minim namun menawarkan harga murah.
"Padahal, untuk menghasilkan foto yang benar-benar berkualitas, tentu membutuhkan keahlian yang mumpuni," jelasnya.
Seiring dengan perkembangan zaman dan kebutuhan pasar, dirinya berharap agar komunitas fotografer bisa bersatu. Nembuat standar harga dan kualitas lebih jelas dan terukur, agar dapat melayani klien dengan lebih profesional. (gun)
Editor : Iwa Ikhwanudin