JOGJA - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta memutuskan menggunakan alat incinerator dodika untuk pembakaran residu sampah. Karena itu pemilihan sampah dari rumah tetap jadi prioritas dalam penanganan sampah di Kota Jogja.
Komisaris PT Dodika Prabsco Resik Abadi, Karina Prabowo Sanger menjelaskan, dalam penanganan sampah, tidak hanya dibumihanguskan. Tapi harus melalui beberapa metode penanganan sampah secara tuntas, seperti dari rumah sampah harus dipilah, adanya bank sampah.
"Sampai pengolahan sampah organik yang bisa dijadikan beberapa pilihan seperti menjadi makan magot yang akhirnya magot tersebut bisa jadi pakan ternak," ujarnya, Jumat (22/11/2024).
Selain itu sampah bisa dimasukan dalam pengolahan biopori. Sehingga sampah yang masih ada nilai ekonomisnya seperti kaleng, plastik pun saat ini banyak diolah lagi menjadi alat rumah tangga sampai batu bara muda yaitu RDF.
"Kemudian sampah yang tinggal residu dimasukan ke dalam mesin incinerator dodika, dan abunya bisa dimanfaatkan untuk campuran batu bata atau pafingblock maupun sebagai penggempur tanah," katanya.
Kemudian, abunya yang akan dibuang ke TPA, bukan dalam bentuk sampah rumah tangga ataupun sampah campuran yang banyak terjadi saat ini.
Untuk itu, lanjut Karina, Dodika Incinerator hadir di Kota Yogyakarta menjadi salah satu solusi membantu Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat yang sedang mengalami darurat sampah, terlebih Kota Yogyakarta merupakan salah satu destinasi wisata yang tidak pernah sepi pengunjung.
"Dodika Incinerator ini sudah memiliki izin Teknologi Ramah Lingkungan (TRL), walaupun dipasang di dekat pemukiman warga, barang ini masih relatif aman dari segi pengoperasian sampai emisinya karena sudah diuji oleh pihak terkait," katanya.
Mesin incinerator dodika bisa beroperasi selama 24 jam nonstop, dengan SOP yang diterapkan dan konsisten, sampah akan berkurang karena mesin incinerator dodika dapat menuntaskan kurang lebih 20 ton per harinya. Pemasangan pun sudah melewati beberapa kajian teknis, termasuk sosialisasi kepada masyarakat di sekitar alat ini dipasang.
"Dengan daya listrik hanya 4.400 watt yang diperuntukan pompa air, penerangan dan blower, serta menggunakan bahan bakar terbarukan yang sedang digalakan pemerintah gas alam (CNG) mesin incinerator dodika tergolong kategori aman digunakan," jelasnya.
Dodika Incinerator, masih kata Karina diciptakan sesuai dengan karakteristik sampah Indonesia yang relatif basah mengandung air lebih dari 60 persen dan bercampur.
"Untuk mesin dodika incinerator ini memang idealnya bisa ditempatkan atau direkomendasikan di TPST yang terintegrasi bank sampah ataupun pemilahan sampah yang melibatkan kelompok masyarakat.
"Semoga dengan kejadian yang viral kemarin atas kunjungan Menteri Lingkungan Hidup, DLH Kota Yogyakarta sudah bekerja keras untuk menangani masalah sampah yang memang tanpa henti dan terus menerus adanya sampah dan khususnya masyarakat Kota Yogyakarta diharapkan bisa sama-sama membantu memilah sampah, supaya DLH Kota Yogyakarta bisa maksimal menangani sampah di Kota Yogyakarta," ujarnya.
Saat ini sudah terpasang dua unit dodika incinerator di wilayah Giwangan, Umbulharjo dan dua unit dalam proses pengerjaan di TPA Piyungan.
Editor : Heru Pratomo