Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Perjuangan Membawa Alfin Dwi Novemyanto Studi S2 Hukum UGM, Dibesarkan Ibu Single Parent dan Berprofesi sebagai Pemulung

Fahmi Fahriza • Jumat, 8 November 2024 | 02:09 WIB

 

 

Alfi bersama sang ibu.
Alfi bersama sang ibu.

 

Penampilannya cukup modis. Pembawaannya tenang dan murah senyum. Namun siapa sangka, mahasiswa S2 Hukum UGM ini memiliki perjuangan hidup yang panjang dan berliku. Bertahun-tahun hidup nomaden berpindah-pindah kost bersama dua saudari, serta sang ibu yang single parent dan berprofesi sebagai pemulung.

 Sekilas, tidak ada yang membedakan dari Alfin dengan para mahasiswa lain yang berseliweran di kawasan UGM. Namun, datang dari latar belakang ekonomi dan keluarga yang cukup berbeda dengan para mahasiswa kebanyakan.

Alfin adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Sejak 2011, ia tidak memiliki tempat tinggal tetap. Berpindah-pindah jadi hal yang biasa dilakukannya bersama kakak, adik, dan ibunya, di seputaran Sragen, Karanganyar, dan Solo. "Saya aslinya Sragen, 2011 orangtua bercerai.  Kami tiga bersaudara ikut ibu pindah ke Karanganyar, hidup selalu pindah kost," katanya kepada Radar Jogja, Kamis (7/11).

Di depan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada
Di depan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada

Alfin kini mungkin bisa sedikit bernafas lega. Sebab sedikit banyak taraf hidup maupun pendidikannya telah meningkat. Tercatat, pada 2023 lalu ia diterima setelah mendaftar beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), dan kini berstatus sebagai mahasiswa magister Hukum UGM.

Namun, dia sempat berada di persimpangan, karena tidak memiliki biaya untuk melanjutkan kuliah. Lelaki kelahiran 23 November 1999 ini bercerita, lulus SMA pada 2017, dia memutuskan untuk bekerja. Tak terpikirkan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi."Setelah lulus SMA saya kerja selama setahun, tidak bisa lanjut kuliah karena faktor ekonomi," sebutnya.

Ia mengenang, dalam prosesnya kala itu, ada seorang guru SMA-nya yang mengetahui Alfin tidak kuliah. Guru tersebut akhirnya memberi dukungan penuh dan merekomendasikan agar kuliah. Dia dibantu membuat surat rekomendasi agar bisa diterima beasiswa bidikmisi.”Akhirnya saya masuk Universitas Terbuka (UT) Surakarta jurusan Ilmu Hukum," paparnya.

Alasan sang guru, karena Alfin berprestasi dan sering mewakili sekolah untuk lomba. Bu Suranti, nama guru itu baginya merupakan pembimbing yang sangat baik dan dekat dengannya.

Ya, Alfin memiliki sejumlah catatan prestasi.Antara lain Beasiswa Program Indonesia Pintar (Kemdikbud) 2015/2016, Beasiswa Bidikmisi (Kemdikbud) 2018/2022, Beasiswa Prestasi (UT) 2019/2022, Beasiswa Juara (IKA UT) 2020, Beasiswa ICE Institute (Kemdikbudristek) 2021/2022 dan Beasiswa LPDP (Kemenkeu) 2024.

Selain karena motivasi diri yang tinggi untuk keluar dari situasi serba terhimpit. Alasannya mengikuti banyak lomba dan mendaftar beasiswa adalah untuk meringankan beban keluarganya, terutama sang ibu.Kakak dan adiknya perempuan. Dia harus bekerja ekstra untuk mereka, sebagai laki-laki satu-satunya."Saya berjuang mati-matian untuk keluarga. Termasuk ikut banyak lomba. Kalau menang hadiahnya bisa untuk ibu dan keluarga," sambungnya.

 Baca Juga: Memperingati Hari Wayang Nasional: Wayang Uwuh Karya Iskandar, Karya Seni dari Sampah yang Mendunia

Ia bercerita, tak terhitung sudah berapa kali melewati masa-masa berat dan penuh rintang. Salah satu yang cukup diingatnya, ada momen saat sekeluarga tidak memiliki uang sama sekali untuk makan."Cukup sering akhirnya harus puasa sekeluarga. Atau pernah juga kalau makan itu makanannya dari hasil ibu memulung," bebernya.

 

Ragam situasi tersebut, sama sekali tidak menyurutkan semangat Alfin untuk belajar dan terus meningkatkan kompetensinya. Walaupun, tak jarang juga ia diremehkan oleh orang-orang di sekitarnya.Banyak cemooh dari orang sekitar. Bahkan dari kerabat juga banyak yang meremehkan mimpi dan harapannya."Saya berusaha tidak terlalu ambil hati dan fokus pada tujuan saya sendiri," imbuhnya.

 Baca Juga: Lagi Menjadi Perbincangan, Ternyata Tujuan Awal Dibangun Stasiun Tugu Jogja untuk Keperluan Ini

Saat ini, Alfin berfokus untuk menjalani studi S2 nya, sembari mengambil banyak kesempatan lain, seperti menjadi pembicara, hingga aktif dalam sosial media.

Berbagai upaya tersebut, dilakukannya untuk bisa membawanya pada kesempatan dan kemungkinan baru, yang diharapkan juga akan berdampak positif bagi keluarganya. Dia ingin mengusahakan banyak hal untuk keluarga. “Ibu sudah berjuang banyak sekali, sampai sekarang juga masih bekerja memulung," lontarnya.

"Ibu pernah bilang di publik saat diwawancarai, bahwa dia bangga punya anak seperti saya. Waktu itu saya mendengar langsung, dan itu kebanggaan terbesar saya sebagai seorang anak," tandasnya (iza/din).

Editor : Din Miftahudin
#Mahasiswa #ibu #inspirasi #prestasi #pemulung #single parent