JOGJA - Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Jogja menjawab sejumlah keluhan pengguna jalan terkait dengan pemasangan speed bump atau pita penggaduh di Jalan Letjen Suprapto.
Menurut instansi itu, ada kecepatan maksimal ketika melintasi pita penggaduh di sepanjang jalan tersebut.
Kepala Dishub Kota Jogja Agus Arif Nugroho mengatakan, pemasangan pita penggaduh di Jalan Letjen Suprapto merupakan upaya pihaknya untuk meningkatkan keselamatan.
Sebab pengguna kendaraan di ruas jalan tersebut kerap melintas dengan kecepatan tinggi.
Arif mengungkap, total ada empat titik pita penggaduh yang dipasang di sepanjang Jalan Letjen Suprapto.
Tiap penggaduh memiliki lima baris dengan ketinggian masing-masing tiga sentimeter.
Terkait dengan keluhan masyarakat perihal terlalu berguncangnya kendaraan ketika melewati pita penggaduh.
Menurut dia, pengguna kendaraan harus menggunakan kecepatan tertentu agar kendaraan tidak terlalu berguncang.
“Pada saat melintas di speed-nya di 15 kilometer per jam itu tidak kerasa, tidak akan ada masalah,” ujar Arif, Jumat (20/9/2024).
Arif menyebut, kehadiran pita penggaduh sejatinya untuk mengurangi kecepatan kendaraan.
Sehingga kendaraan atau pengguna jalan bisa memiliki kesempatan untuk menghentikan laju agar tidak menabrak objek di depannya.
Lebih lanjut, dia pun menegaskan, kalau pemasangan speed bump di Jalan Letjen Suprapto juga sudah melalui kajian.
Bahkan menurutnya ketinggian tiga sentimeter pada pita penggaduh di ruas jalan tersebut sebenarnya masih di bawah standar teknis.
“Saya sudah coba dengan kendaraan kecil matic, dan tidak ada masalah,” tegas Arif.
Sebelumnya, Edi Kurniawan salah satu pengguna jalan Letjen Suprapto mengeluhkan kehadiran pita penggaduh.
Dia menilai, pita penggaduh terlalu tinggi dan membuat kendaraan bergoyang cukup kencang ketika melintas.
Meskipun menurutnya cukup efektif untuk menurunkan kecepatan kendaraan.
Di satu sisi juga membahayakan bagi pengguna kendaraan.
Terlebih bagi yang membawa barang-barang murah pecah seperti telur atau benda yang terbuat dari kaca.
“Kalau menurut saya malah berbahaya karena tadi melintas itu kasar banget,” ungkap Edi yang berprofesi sebagai pengemudi ojek online ini. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin