JOGJA - Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada Januari hingga Juli 2024 sebanyak 62.317 orang. Jumlah ini menjadi yang tertinggi sepanjang enam tahun terakhir. Melampaui jumlah kunjungan pada periode yang sama sebelum pandemi Covid-19.
Kepala BPS DIY Herum Fajarwati mengatakan, jumlah kunjungan wisman ke DIY pada periode Januari-Juli 2024 itu naik signifikan dibandingkan periode yang sama 2023. Sebab pada periode Januari-Juli 2023, jumlah kunjungan wisman hanya 51.108 kunjungan. "Naik 21,93 persen,” katanya kemarin (3/9).
Kunjungan periode Januari-Juli 2024 bahkan lebih tinggi dari periode sama 2019, tahun terakhir sebelum pandemi. Pada Januari-Juli 2019, jumlah kunjungan wisman 61.858 orang. "Ini menggembirakan untuk kunjungan wisman yang ke Jogjakarta," ungkap Herum.
Ia menjelaskan, kunjungan wisman pada periode Januari-Juli 2024 didominasi dari Malaysia yaitu 25.018 orang atau 36,98 persen dengan pertumbuhan secara bulanan 59,63 persen. Kemudian Tiongkok 894 kunjungan atau 8,04 persen dengan pertumbuhan bulanan 103,18 persen. Diikuti Prancis dengan 683 kunjungan atau 6,14 persen.
"Biasanya di posisi ketiga Singapura. Namun bulan ini (Juli) digeser oleh Prancis dengan pertumbuhan secara bulanan 267,20 persen. Pertumbuhan dari Prancis ini sangat menggembirakan," jelasnya.
Selain kunjungan wisman, BPS DIY juga mencatat adanya peningkatan perjalanan wisatawan Nusantara (wisnus) pada Januari-Juli 2024. Tercatat ada 22,59 juta perjalanan wisnus sepanjang periode itu.
Sepanjang periode itu, jumlah perjalanan wisnus tertinggi terjadi pada Januari 2024 yang mencapai 4,27 juta perjalanan. Sleman tercatat sebagai kabupaten dengan jumlah perjalanan wisnus tertinggi, baik sebagai daerah asal perjalanan maupun sebagai daerah tujuan.
Pergerakan wisnus tahun 2024 ini juga jadi yang tertinggi sepanjang enam tahun terakhir. Meningkat 19 persen dari tahun 2023 dengan 18,98 juta perjalanan. “Jika dibandingkan 2019, hanya ada 11,82 juta perjalanan, sehingga lebih tinggi dibanding sebelum pandemi,” ucapnya.
Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY Bobby Ardianto menuturkan, tingginya kunjungan 2024 disebabkan sejumlah hal. Seperti kondisi ekonomi yang semakin membaik pasca pandemi. Lalu adanya inovasi di DIY yang menarik wisatawan datang ke DIY. “Ketertarikan (datang) ke Jogja jadi lebih tinggi,” katanya.
Meski demikian, wisatawan dinilai masih terpusat di Kota Jogja saja. Untuk itu, GIPI mendorong agar kabupaten lain di DIY melakukan inovasi agar bisa menahan wisatawan di kabupatennya masing-masing. Apabila hal itu bisa dilakukan, maka carrying capacity atau daya dukung akan lebih besar. "Sehingga fenomena kunjungan pada Juli 2024 ini bisa kembali terjadi tahun depan," ujar Bobby. (tyo/laz)
Editor : Satria Pradika