RADAR JOGJA - Yogyakarta masih melekat dengan permasalahan sampah. Terlebih saat ditutupnya TPST Piyungan sejak 1 Mei lalu. Waktu penutupan pun sempat mundur karena dijadwalkan April. Sebab Kota Jogja serta Kabupaten Sleman dan Bantul (Kartamantul) masih belum memiliki lahan untuk melaksanakan desentralisasi sampah yang dicanangkan Pemprov DIY.
Meski demikian, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY Kusno Wibowo mengklaim, akan memerdekakan Yogyakarta dari sampah tahun depan. Upayanya ditempuh dengan adanya desentralisasi.
Sistem pengolahan sampah dikembalikan ke masing-masing kabupaten/kota. Pertimbangannya hanya karena pengolahan sampah regional di TPST Piyungan sudah penuh. “Tidak memungkinkan menampung sampah ke depan," ucapnya Kamis (15/8).
Selain itu, pembangunan tempat pembuangan sampah terpadu (TPST) di setiap kabupaten/kota masih dilakukan. "Kalau itu selesai, optimis di DIY benar benar merdeka sampah," tegasnya.
Namun kenyataannya, Kartamantul masih memerlukan keberadaan TPST Piyungan. Sebab dari data DLHK DIY selama 2024, masih ada ribuan ton sampah yang dibuang di wilayah Bantul tersebut.
Tercatat pada Januari, Kota Jogja menyumbang sebanyak 3.417,21 ton sampah ke TPS Piyungan. Kemudian Sleman sebanyak 2.517,81 ton dan Bantul dengan 2.736,33 ton sampah. "Total masuk ada 8.671,35 ton yang masuk ke TPS Piyungan pada Januari," bebernya.
Pada Februari, Kota Jogja kembali menyumbang 3.435,356 ton. Disusul Sleman dengan 2.229,13 ton dan Bantul 2.389,68 ton. Totalnya mencapai 8.124,168 ton sampah. Selanjutnya pada Maret, Kota Jogja menyumbang 3.452,482 ton. Kabupaten Sleman 2.377,98 ton dan Bantul 2.493,36 ton. Jumlahnya tercatat hingga 8.232,824 ton.
Pada April, jumlah sampah Kota Jogja turun menjadi 2.991,520 ton. Kabupaten Sleman 1.549,890 ton dan Bantul 1.713,07 ton. Sehingga dalam sebulan, sampah masuk TPST Piyungan hingga 6.299.476 ton.
Meski demikian, masalah sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata. Masyarakat, lanjutnya, harusa ikut berkontribusi dalam mengurangi dan mengolah sampah. "(Lewat, Red) lembaga dari tingkat kelurahan seperti bank sampah dan gerakan-gerakan lainnya," tuturnya.
Diakuinya, mengubah mindset masyarakat dari membuang menjadi mengolah memang sulit. Padahal, produksi sampah di DIY mayoritas merupakan sampah jenis organik. Sampah tersbeut berasal dari dapur rumah tangga dan juga pasar tradisional. "Sisa sayur ataupun sisa makanan, bisa 60 persen dari organik," ucapnya. (oso/eno)
Editor : Satria Pradika