RADAR JOGJA - Kos-kosan bebas (LV) cukup menjamur di Jogjakarta. Ironi di kota pendidikan ini memang tidak bisa dipungkiri. Salah satu penyebabnya karena sebagian pemilik kos ingin mencari keuntungan lebih tinggi.
Salah seorang pemilik kos LV di Kemantren Wirobrajan, Kota Jogja, Bruno (bukan nama sebenarnya) mengatakan, sudah sejak lima tahun terakhir ini membuka usaha kos-kosan. Awalnya indekos miliknya bukan merupakan kos LV. Namun ditujukan bagi penghuni pria.
Seiring waktu, banyak penghuni kos yang kemudian menanyakan tentang peraturan indekos. Salah satu pertanyaan yang kerap diajukan adalah tentang boleh tidaknya membawa pasangan.
Dia pun mengiyakan dengan peraturan tertentu. Yakni pintu harus dibuka dan tidak boleh sampai melebihi jam 10 malam. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, sekaligus mengantisipasi adanya pandangan buruk dari masyarakat.
"Memang awalnya kos-kosan yang saya miliki bukan kos bebas, tapi ditujukan untuk mahasiswa pria," ujarnya saat ditemui Jumat (26/7).
Namun seperti umumnya usaha yang pasang surut, ia mengakui usaha kos-kosan miliknya sempat sepi penghuni karena dihantam pandemi Covid-19 lalu. Hal itu yang kemudian membuat ia mengalihkan indekos dari semula pria menjadi kos-kosan pasangan suami istri (pasutri).
Selama masa pandemi, kos-kosan pasutri memang cukup diminati. Pun fasilitas di kos-kosan miliknya juga bisa dibilang cukup untuk dihuni dua orang. Ukuran kamar 4x3 meter dengan fasilitas kamar mandi dalam.
Dari segi keuntungan juga lebih baik dibandingkan sebelumnya. Dia mencontohkan, selama menjadi kos-kosan pria biaya sewa kamar per bulan dipatok Rp 600 ribu per bulan. Namun ketika menjadi kos-kosan pasutri, ia bisa mematok harga bagi penyewa kamar Rp 750 ribu-Rp 800 ribu per bulan.
Walaupun disebut sebagai kos-kosan pasutri, dia mengakui tidak pernah menanyakan kepada penghuni apakah sudah menikah atau meminta dokumen resmi bukti pernikahan. Hal itu tidak dilakukan karena dia pun merasa tidak enak kepada penghuni perihal status perkawinan.
Bruno pun membebaskan aktivitas yang dilakukan para penghuni kos. Entah mau pulang malam, membawa wanita ke dalam kamar maupun sampai menginap. Terpenting baginya penghuni sudah membayar sesuai kesepakatan harga dan tidak membuat keributan dengan sesama pemilik kos maupun masyarakat sekitar.
Perihal permasalahan sosial, kata dia, selama usahanya berjalan tidak ada kendala. Sebab di awal dia sudah menyampaikan kepada masyarakat dan pemangku bahwa kos-kosan miliknya merupakan pasutri. Sehingga masyarakat sekitar pun bisa memaklumi ketika ada aktivitas pria maupun wanita di indekos miliknya.
"Sehingga mau dikatakan kos pasutri atau LV saya terserah. Karena saya sudah menyampaikan kalau kamar kos bisa dihuni pasangan," tanadas Bruno. (inu/laz)
Editor : Satria Pradika