Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kampung Ketandan Jogja: Kawasan Pecinan Bersejarah di Tengah Denyut Malioboro dan Peran Masyarakat Tionghoa dalam Perekonomian Jogja

Iwa Ikhwanudin • Kamis, 25 Juli 2024 | 11:07 WIB
Caption: Gapura Kampung Ketandan. (foto: Wikipedia)
Caption: Gapura Kampung Ketandan. (foto: Wikipedia)

RADAR MALIOBORO - Kampung Ketandan adalah saksi dari akulturasi budaya yang kaya antara komunitas Tionghoa, Keraton, dan warga Kota Yogyakarta.

Terletak strategis di jantung kota, tepatnya di kawasan Malioboro, Kampung Ketandan meliputi Jalan Ahmad Yani, Jalan Suryatmajan, Jalan Suryotomo, dan Jalan Los Pasar Beringharjo.

Selama lebih dari dua abad, kawasan ini telah menjadi rumah bagi komunitas Tionghoa, menjadikannya bagian integral dari sejarah dan kehidupan kota Yogyakarta.

Kampung Ketandan mulai terbentuk pada akhir abad ke-19 sebagai pemukiman utama masyarakat Tionghoa di masa kolonial Belanda.

Pada masa itu, pemerintah Belanda menerapkan aturan pembatasan pergerakan (passentelsel) dan mengatur wilayah tinggal masyarakat Tionghoa (wijkertelsel).

Namun, dengan izin dari Sri Sultan Hamengkubuwono II, warga Tionghoa tetap diizinkan menetap di tanah yang terletak di utara Pasar Beringharjo, dengan tujuan memperkuat aktivitas perdagangan dan ekonomi di Yogyakarta.

Arsitektur di Kampung Ketandan didominasi oleh bangunan tempo dulu yang khas, dengan rumah-rumah dua lantai yang memanjang ke belakang, berfungsi sebagai toko sekaligus tempat tinggal.

Bangunan ini lazim disebut rumah toko atau ruko.

Sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai pedagang emas dan permata, pemilik toko kelontong, penyedia herbal, serta berbagai kebutuhan pokok lainnya.

Pada tahun 1950-an, hampir 90% penduduk Kampung Ketandan beralih profesi menjadi pedagang emas.

Toko emas pertama di Jogja juga didirikan di kawasan ini pada tahun 1955.

Masyarakat Tionghoa di Kampung Ketandan telah memainkan peran penting dalam memperkuat kegiatan ekonomi Jogja selama berabad-abad, berbaur dengan pedagang pasar dan warga lainnya.

Pemerintah Kota Yogyakarta telah menetapkan Kampung Ketandan sebagai kawasan cagar budaya Pecinan yang terus dikembangkan.

Bangunan-bangunan Tionghoa yang masih ada sering direnovasi dengan mempertahankan arsitektur khas Tionghoa.

Bahkan, bangunan baru diusulkan untuk dibangun dengan gaya arsitektur Tionghoa, untuk mempertahankan identitas budaya kawasan ini.

Bangunan asli di Kampung Ketandan memiliki atap berbentuk gunungan, namun seiring waktu, banyak yang direnovasi menjadi berbentuk lancip, menunjukkan akulturasi antara budaya Tionghoa dan Jawa. 

Sejak tahun 2006, Kampung Ketandan rutin mengadakan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) setiap menyambut Tahun Baru Imlek.

Selama acara ini, Ketandan dihiasi dengan ornamen dan gapura berarsitektur Tionghoa.

Festival ini meliputi panggung hiburan, seni barongsai, pasar kuliner, hingga pawai budaya Tionghoa di sepanjang Jalan Malioboro.

PBTY diselenggarakan oleh Pemkot Yogyakarta bersama komunitas Tionghoa se-Jogja, bertujuan untuk mempertahankan identitas Kampung Ketandan Pecinan dan menambah keragaman budaya di Kota Yogyakarta yang terkenal akan budayanya.

(Rinda Martisa Fiorentina)

Sumber: warta.jogjakota.go.id

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Kota Jogja #Kampung Ketandan #akulturasi budaya #pecinan #ketandan