SLEMAN - Cuaca panas terjadi di wilayah Yogyakarta pada awal musim kemarau tahun ini. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta pun memprediksi kondisi tersebut bakal terus terjadi hingga September mendatang.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, fenomena suhu panas memang terjadi pada beberapa wilayah di Indonesia. Meskipun demikian, hal tersebut bukan bencana gelombang panas seperti yang terjadi pada beberapa negara Asia.
Menurut dia, umumnya cuaca panas di Yogyakarta terjadi karena gerak semu matahari. Kondisi tersebut pun biasa karena merupakan siklus tahunan. Namun ada prediksi cuaca panas terus terjadi hingga bulan September mendatang.
“Kemungkinan cuaca panas akan terus terjadi selama periode musim kemarau berlangsung saat ini. Bisa sampai September,” ujar Reni kepada Radar Jogja, Minggu (5/5/2024).
Reni melanjutkan, bahwa dari hasil pantauan pihaknya, rata-rata suhu panas di Yogyakarta selama sepekan terakhir berada pada kisaran 32 sampai 33 derajat celcius. Sementara untuk suhu minimal atau terdinginnya dapat mencapai 22 derajat celcius.
Dia pun meminta agar masyarakat tetap waspada terhadap potensi peningkatan suhu di Yogyakarta. Sebab berdasar pengalaman, suhu panas di DIY dapat mencapai maksimal di angka 34 sampai 35 derajat celcius.
Selama musim kemarau ini, BMKG Yogyakarta pun menghimbau agar masyarakat waspada terhadap berbagai potensi bencana akibat musim kemarau. Meliputi bencana kekeringan, kebakaran lahan, hingga kekurangan air bersih.
Walaupun demikian, Reni juga tetap meminta agar masyarakat mewaspadai bencana hidrometeorologi seperti hujan disertai angin kencang selama masa pancaroba. Sebab ada sebagian wilayah yang memasuki musim kemarau pada akhir bulan ini.
“Kewaspadaan musim kemarau dimulai bulan Mei sampai dengan September mendatang,” ungkapnya.
Terpisah, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Sleman Esti Kurniasih menyampaikan, pada musim kemarau ada beberapa penyakit yang harus diwaspadai. Salah satunya penyakit pernafasan karena kondisi udara yang kering, membuat banyak debu berterbangan.
Menurutnya, penyebaran penyakit pernafasan dapat semakin masif pada kondisi saat ini. Sebab kini masyarakat banyak yang tidak menggunakan masker. Sehingga dampaknya dapat membuat virus penyakit semakin mudah ditularkan antar-manusia.
"Untuk musim kemarau yang paling banyak dikeluhkan batuk dan pilek karena banyak debu," beber Esti. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin