Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Nasib Poniyem, Pengusaha Kerajinan Bambu di Sleman, Dulu Bisa Ekspor, Kini Sebulan Laku pun Sulit

Adib Lazwar Irkhami • Rabu, 3 April 2024 | 13:10 WIB
TURUN DRASTIS: Poniyem, 65, di toko usaha mebel bambu, kawasan Embung Senja, Sendari, Tirtoadi, Mlati,(2/4). Usahanya kini makin lesu seiring perkembangan zaman.
TURUN DRASTIS: Poniyem, 65, di toko usaha mebel bambu, kawasan Embung Senja, Sendari, Tirtoadi, Mlati,(2/4). Usahanya kini makin lesu seiring perkembangan zaman.

 

 


RADAR JOGJA - Usaha kerajinan bambu di Sleman kini tidak lagi manis. Salah seorang yang merasakan itu adalah Poniyem. Pemilik industri mebel Bambu Shinta ini sekarang kesulitan menjual produknya. Padahal beberapa tahun lalu dia mampu menjual kerajinannya hingga luar negeri.


IWAN NURWANTO, Sleman


Perempuan berusia 65 tahun ini terlihat lesu di tokonya, kawasan Embung Senja, Jalan Sendari, Jontungan, Tirtoadi, Mlati, Sleman, kemarin (2/4). Bak nama tempatnya berjualan, usahanya juga perlahan tenggelam seperti matahari di waktu senja.


Poniyem sudah puluhan tahun menggeluti usaha mebel bambu bersama suaminya. Namun seiring waktu, usaha pembuatan sekaligus penjualan berbagai kerajinan bambu seperti lincak dan kap lampu yang dia tekuni terus berangsur sepi pembeli.


Dia mengaku dalam sebulan penjualan kerajinan bambu miliknya tidak pasti laku. Berbeda dengan dulu yang bahkan usaha bambunya mampu ekspor ke Jepang, Arab Saudi, Australia, dan Prancis. Jumlahnya bisa mencapai satu truk kontainer penuh.


Poniyem menceritakan, sekitar 2015 merupakan masa jaya bagi usaha bambu miliknya. Dulu ia mampu melakukan 10 sampai 15 kali pengiriman ke luar negeri. Namun, kini penjualan lokal pun diakui cukup kesulitan.


"Cukup ramai itu sekitar tahun 2010 sampai 2015-an. Setelah 2015 usaha saya kemudian ambleg, ditambah pandemi kini makin ambyar. Sebulan tidak tentu laku," ujar warga Sendari ini kepada Radar Jogja, kemarin (2/4).


Poniyem mengungkapkan, dulu harga jual lincak bisa menyentuh Rp 1 juta per buah. Namun kini meski harganya sudah turun menjadi Rp 900 ribu, penjualannya tidak mengalami kenaikan. Sebaliknya makin terpuruk.


Perempuan yang sudah menekuni usaha mebel bambu sejak ia berusia 20 tahun ini mengaku tidak tahu pasti kenapa hal tersebut bisa terjadi. Hanya saja ada dugaan karena mulai banyaknya perajin bambu dari berbagai daerah.


Dampaknya, kerajinan bambu asal Sleman makin tidak diminati. Atau banyak pembeli dari luar daerah memilih untuk membeli dari daerahnya sendiri.


Padahal, menurutnya, di kawasan Embung Senja merupakan kawasan yang memiliki bahan baku dan sumber daya perajin cukup banyak. Namun kini terus berkurang karena sudah tidak lagi menjanjikan.


Poniyem mengungkap, dari tujuh perajin kini tinggal tiga yang masih aktif membuka usahanya. Oleh karena itu, perempuan berkacamata ini mengaku pasrah dengan kondisi tersebut.
Diakui persaingan pasar pada situasi sekarang cukup ketat.

Bahkan dia tidak berani mencoba peruntungan lewat penjualan secara online, karena banyak pengusaha serupa yang menjual harga di bawah pasaran secara daring.


"Bisa dikatakan pengusaha bambu di Sleman kini ambruk. Kadang payu (laku, Red) kadang nggak," ungkapnya. (laz)

Editor : Satria Pradika
#Sleman #Pengusaha kerajinan bambu