Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pentas Peragaan Jalan Salib di Gereja Baciro Jogja Angkat Isu Persoalan Sampah dan Pertobatan Ekologis

Agung Dwi Prakoso • Sabtu, 30 Maret 2024 | 15:00 WIB

 

SINDIR SIKAP MANUSIA: Pementasan peragaan jalan salib dalam rangkaian Trihari Suci Paskah di Gereja Kristus Raja (GKR) Baciro Jogja(29/3).
SINDIR SIKAP MANUSIA: Pementasan peragaan jalan salib dalam rangkaian Trihari Suci Paskah di Gereja Kristus Raja (GKR) Baciro Jogja(29/3).


RADAR JOGJA - Gereja Kristus Raja (GKR) Baciro Jogja menggelar peragaan jalan salib dalam rangkaian Trihari Suci Paskah di kompeks gereja, kemarin (29/3). Sutradara pementasan peragaan jalan salin mengambil gagasan pertobatan ekologis yang dikaitkan dengan isu sampah di Yogjakarta.


"Sub tema pertobatan ekologis penting untuk diangkat dalam peragaan jalan salib tahun ini, karena di banyak tempat di belahan dunia manapun perusakan lingkungan masih terjadi," ujar sutradara peragaan jalan salib, Vincentius Guntur Bayu Anjana Saputra kemarin (29/3).


Ia menilai banyaknya kerusakan lingkungan itu tidak jauh dari sikap manusianya. Melihat fenomena itu, pihaknya ingin sedikit menyindir kepada seluruh manusia yang ikut merusak lingkungan dengan pertunjukan tersebut.

Baca Juga: Balut Kisah Sengsara Yesus dalam Visualisasi Jalan Salib di Gereja St Ignatius Magelang


"Perlu ada sikap untuk mengakui dan bertobat atas perilaku merusakan alam yang bisa diartikan dengan pertobatan ekologis," tuturnya. Ia mencontohkan saat ini iklim berubah secara ekstream dan tidak menentu di seluruh dunia.


Fenomena alam dan bencana di luar prediksi sering terjadi karena alam yang sedang tidak baik baik saja. "Harapan kami dengan tema yang kami angkat dapat membantu manusia untuk lebih sadar terhadap persoalan sampah," kata Guntur.


Ketua Orang Muda Katolik (OMK) Baciro Angela Yosanda Pradyasari mengatakan, tahun ini OMK memutuskan mengangkat persoalan lingkungan hidup. Seperti yang banyak terjadi, termasuk di dalamnya kebiasaan membuang sampah dan perusakan alam.


"Tema kami dapatkan setelah berdiskusi dengan Romo Andreas (Romo Paroki GKR Baciro). Dalam diskusi Romo Andreas menyinggung perihal Ensiklik Paus Fransiskus 'Laudato Si' yang membicarakan ibu pertiwi atau bumi sebagai tumah bersama yang harus dijaga," ujarnya.


Proses pertunjukan peragaan jalan salib juga melibatkan putra putri dari berbagai daerah, mulai Sumatera hingga Papua. Selain itu, mereka juga melibatkan masyarakat lintas iman sebagai aktor.

"Contoh seperti saudara Kristen dan Islam, untuk menjaga keharmonisan dalam beragama di Indonesia," tuturnya.


Misal salah seorang muslim yang berperan menjadi rakyat dalam pertunjukan, Ravieka Fathya Rimsha Azzahra mengaku ingin terlibat dalam menghayati kisah hidup dan meneladani sikap Yesus Kristus. Keteladanan itu dapat diikuti dan dia terapkan dalam kehidupan sehari-hari. "Saya Muslim. Ikut peragaan jalan salib ya ingin srawung juga lintas iman kan," kata Ravieka.


Sejalan dengan itu, Romo Paroki GKR Baciro Andreas Novian Ardhi Prihatmoko menjelaskan dalam Ensiklik Laudato Si tersebut, Paus Fransiskus menjelaskan tentang Pertobatan Ekologis. "Berlatar belakang pada konteks manusia yang semakin merasa dirinya menjadi pusat semesta, seolah-olah manusia satu-satunya yang berkuasa di dunia," kata Andreas.


Ia menilai tema yang diambil tidak akan hilang oleh zaman. Sampai kapan pun tetap relevan ketika manusia masih tidak dapat mengelola alam secara bijaksana, termasuk kebiasaan membuang sampah sembarangan.


Ditutupnya TPST Piyungan mendorong masyarakat mengelola dan mengolah sampahnya sendiri. Selain itu perlu ada perubahan mengenai kebiasaan buruk membuang sampah sembarangan. Upaya mengubah kebiasaan itu perlu dilakukan terus menerus dengan berbagai cara termasuk melalui sarana pementasan seperti peragaan jalan salib.


"Kalau konteks besar dalam Ensiklik itu kan sebenarnya menyoroti korporasi atau perusahaan besar yang abai dalam pengelolaan alam ciptaan," katanya.


Dalam proses latihan pun para aktor, termasuk sutradara dan kru diwajibkan membawa botol untuk mengisi air minum yang telah disediakan panitia. Hal itu sebagai bukti nyata bahwa tema yang diangkat bukan sekadar formalitas namun juga benar-benar diterapkan. (oso/laz)

Editor : Satria Pradika
#salib #kristen #Gereja Baciro Jogja #TPST Piyungan