Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Orang dengan Masalah Mental Terkadang Sulit Dikendalikan

Khairul Ma'arif • Senin, 29 Januari 2024 | 17:35 WIB
Photo
Photo

RADAR JOGJA - Masyarakat umum masih banyak yang salah kaprah perihal istilah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Istilah ODGJ merujuk UU Nomor 18 Tahun 2014 yang sifatnya umum. Oleh karena itu, spektrumnya sangat luas, bukan berarti ODGJ sama semua klasifikasinya. Semua yang terkait gangguan pikiran, perasaan dan perilaku yang menyebabkan disfungsi disebut sebagai ODGJ.


Menurut dr Ida Rochmawati M.Sc, Sp.KJ, gangguan jiwa itu luas. Ada yang berkaitan pikiran, perilaku, dan emosi. Ada istilah lain ODMK yang berarti orang dengan masalah kejiwaan. Individu yang termasuk dalam ODMK adalah orang-orang yang berisiko bisa mengalami gangguan jiwa dibanding orang biasa. Ada juga ODS atau orang dengan skizofrenia. Orang awam yang dalam tanda kutip disebut gila, itu termasuk dalam ODS.


Dikatakan, jiwa itu mengandung tiga unsur yakni pikiran, perasaan dan perilaku yang diatur dan pusatnya ada di otak. Adanya gejala-gejala pikiran perasaan dan perilaku dipengaruhi zat kimia otak neurotransmitter yang fungsinya komunikasi antarsel saraf yang mempengaruhi gejala-gejala gangguan jiwa. ODS memiliki dopamin duanya tinggi, sedangkan orang yang cemas serotoninnya turun.


"Khusus ODS yang orang awam sebut sebagai gila gangguannya hiperaktif pada dopamin dua dimeso linguid, akibatnya mengalami gangguan penilaian realitas muncul halusinasi," bebernya kemarin (28/1). Biasanya juga muncul gejala panca indera seperti mendengar atau mencium sesuatu.


Bicara kejiwaan, ada dua dimensi yakni medis dan nonmedis. Ida tidak dapat mengomentari orang yang menilai kejiwaan itu dimensi nonmedis. Tetapi dalam keyakinannya bisa diselesaikan secara medis. Terjadinya gangguan jiwa, ada faktor risiko seperti genetik, kepribadian, pola asuh, trauma, gaya hidup yang saling berinteraksi yang memunculkan gangguan jiwa. Seperti diabetes, gangguan jiwa juga ada faktor keturunan yang mempengaruhi.


Ida menyadari, berbicara kejiwaan selalu erat kaitannya dengan stigma di masyarakat yang salah, tetapi menjadi kebenaran bersama. Kondisi itu mengakibatkan orang yang punya masalah kejiwaan dan berisiko mengalami gangguan jiwa, sering terlambat mendapatkan pertolongan medis. Lantaran penanganan pertamanya malah datang ke pertolongan nonmedis terlebih dahulu.


Namun ia tidak menyalahkan dan tidak membenarkan setiap orang memiliki alasan masing-masing. Menurutnya, selama menjadi psikiater selama 14 tahun, ilmu menangani kejiwaan itu ada dan bisa diobati. "Banyak yang parah karena terlambat mendapat pertolongan medis. Kedua merasa tidak sakit mengakibatkan keberlanjutan pengobatannya tidak maksimal," ungkapnya. Menurutnya, banyaknya yang tidak pulih sepenuhnya karena keberlanjutan pengobatannya yang tidak maksimal.


Ida mengungkapkan, orang dengan masalah mental terkadang sulit dikendalikan, tidak seperti penyakit diabetes yang bisa dikelola konsumsi gulanya. Kondisi itu juga terkadang tidak disadari bahwa individu itu tidak sakit. Berbeda dengan sakit gigi yang bisa dirasakan dan otomatis berkeinginan mengonsumsi obat. Tetapi, selain itu perlu ada dukungan literasi dan psiko sosial agar terhindar lebih parah.


Psikiater yang berdinas di RSUD Wonosari ini menyampaikan, untuk ODGJ akut tidak akan dapat memberikan fungsinya secara maksimal. Kondisi itu otomatis tidak memungkinkan untuk memberikan hak suara pada coblosan 14 Februari nanti. Menurutnya, dalam hal itu tidak hanya ODGJ, tetapi penyakit lain dalam kondisi akut pasti tidak akan maksimal memberikan hak suaranya.


"Kalau sudah stabil, dia juga bisa nyoblos karena dia dikendalikan obat," tuturnya. Menurutnya, kalau fase akut dipastikan tidak atau sulit untuk memberikan hak suaranya. (rul/laz)

Editor : Satria Pradika
#masalah mental #ODGJ