Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ketua Paguyuban Kusir Andong DIY Purwanto: Kusir Harus Bawa Minyak Wangi Untuk Bersihkan Kotoran Kuda, Inovasi Gunakan Pembayaran QRIS

Fahmi Fahriza • Minggu, 31 Desember 2023 | 00:04 WIB
Ketua Paguyuban Kusir Andong DIY Purwanto. (Fahmi Fahriza/Radar Jogja)
Ketua Paguyuban Kusir Andong DIY Purwanto. (Fahmi Fahriza/Radar Jogja)

JOGJA - Entitas andong kini tidak saja sebagai moda transportasi semata. Termasuk andong di kawasan Malioboro yang saat ini jadi moda transportasi wisata. Bahkan, jadi salah satu daya tarik wisatawan saat berkunjung ke Jogjakarta.

Ketua Paguyuban Kusir Andong DIY Purwanto mengatakan, secara umum dahulu andong memang hanya menjadi moda transportasi. Termasuk dalam bagian Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) yang diketuai oleh Gusti Bendoro Pangeran Haryo (GBPH) Yudhaningrat.

Seiring berkembangnya zaman, andong di Jogjakarta akhirnya beralih fungsi menjadi angkutan wisata dan turut dibentuk pula Paguyuban Kusir Andong DIY pada April 2016 silam.

Purwanto menyebut, ada awal dibentuknya Paguyuban Kusir Andong DIY setidaknya ada 536 andong yang tercatat di Dinas Perhubungan kota Jogjakarta dan tergabung dalam paguyuban tersebut.

Namun, jumlah tersebut kini menurun cukup drastis. Salah satunya adalah dampak pandemi Covid-19 yang membuat kusir andong harus menjual andong mereka dan beralih ke pekerjaan lain.

"Saat pandemi menurun cukup banyak dan data terakhir itu ada 421 unit andong sekarang," katanya pada Radar Jogja, Sabtu (30/12).

Dari 421 andong yang tersisa, dikatakannya, saat ini terbagi menjadi 15 kelompok. Itu meliputi kelompok Gamping, Amor, Bantul, Alun-Alun A, Alun-Alun B, Jejeran, Pleret, Banyakan, Nganyang, Gembiraloka, Kotagede 1, Kotagede 2, Mandiri, Guyub Rukun, dan Satria Jaya.

Purwanto menuturkan, saat ini 99 persen andong tersebut beroperasi di kawasan Malioboro. Sisanya berada di kawasan Alun-Alun Utara Jogjakarta.

Secara konsep, andong yang berada di Malioboro tersebut memang diproyeksikan menjadi angkutan wisata. Andong sudah tidak beroperasi atau memiliki trayek jarak jauh.

"Kita kehabisan penumpang, dulu banyak di stasiun, terminal, sampai pasar. Sekarang hanya berpusat di kawasan Malioboro saja sebagai angkutan wisata," terang Purwanto.

Dipilihnya Malioboro sebagai kawasan operasional andong, disebut Purwanto, juga jadi salah satu cara untuk menaikkan branding Malioboro sebagai kawasan wisata tanpa polusi.

Tak tanggung-tanggung, ragam inovasi pun dilakukan oleh paguyuban kusir andong tersebut untuk menaikkan branding wisata Kota Jogjakarta. Salah satunya adalah kesepakatan untuk menggunakan blangkon dan surjan bagi para kusir andong.

"Itu ciri khas serta kesepakatan paguyuban dan dipakai setiap hari. Juga, untuk menguatkan branding soal budaya Jogjakarta dan angkutan wisata," paparnya.

Selain itu, Purwanto menyampaikan, kusir andong di Malioboro saat ini banyak yang menggunakan QRIS dalam sistem pembayarannya.

Hal tersebut dilakukan sebagai salah satu langkah adaptif terhadap zaman dan juga memudahkan opsi pembayaran bagi para pengguna.

"Pembayaran bisa dengan QRIS, kebanyakan kusir muda dan sudah diterapkan atau uji coba sejak Pandemi, saat ini yang pakai QRIS kurang lebih ada 290-an kusir," sebutnya.

Bahkan, dahulu pernah ada kerja sama yang dijalin dengan Grab selaku penyedia layanan jasa. Bisa memesan andong melalui aplikasi.

"Dulu bisa pesan pakai aplikasi, tapi lokasinya ya harus di deket kusir sini. Tapi, sayangnya sekarang sudah tidak bisa," kenangnya.

Berdasarkan kesepakatan dan jatah dari pemerintah, saat ini setidaknya ada 13 cekungan yang bisa mengakomodasi hingga 78 andong mangkal di kawasan Malioboro setiap harinya.

"Ada 13 titik untuk mangkal, setiap hari itu biasanya ada empat jam operasional semacam shift, dari pagi sampai malam," tandasnya.

Diakuinya, andong saat ini cukup efektif sebagai moda angkutan wisata. Selain itu, turut terbukti dalam membantu meningkatkan branding serta awareness publik. Terutama wisatawan luar daerah terhadap budaya dan wisata Kota Jogjakarta.

Ke depan, Purwanto berharap andong di Malioboro bisa diberikan tempat yang lebih luas untuk mangkal atau menunggu penumpang. Sebab, kusir andong kekurangan tempat dan perlu perluasan tempat.

Langka ini dirasa penting. Sebab, secara umum kusir andong juga sudah bertanggung jawab untuk turut menjaga kebersihan kawasan Malioboro dan kenyamanan wisatawan.

"Kusir tanggung jawab. Misalnya kotoran dari kuda, kami di paguyuban minta kusir bawa minyak pewangi dan air untuk membersihkan kotoran dan bersihkan kudanya juga," tuturnya. (iza)

Editor : Amin Surachmad
#minyak wangi #Andong #Malioboro