RADAR JOGJA - Ada yang sedikit berbeda di Gereja Katolik Santo Antonius Padua Kotabaru, Kota Jogja, pada Perayaan Natal 2023. Hal itu berkaitan tema yang diangkat dalam perayaan kali ini yakni merawat bumi. Tema diangkat sebagai respons atas peristiwa bumi sebelumnya yang dibekap oleh pandemi Covid-19.
Sementara itu calon romo atau Frater (Fr) Craver Swandono SJ dari Gereja Kotabaru juga memberikan sejumlah pesan kepada umat Katolik. Dia membeberkan, gereja Kotabaru terbuka tidak membatasi lingkup teritori umat Katolik. Oleh karena itu, umat Katholik dari mana saja bisa hadir untuk ikut perayan ekaristi.
Craver Swandono menekankan, Natal tahun ini untuk umat Katolik terutama yang beribadah di Gereja Kotabaru, bisa diberi pemahaman. "Bahwa keterbukaan hati menjadi kunci masuknya firman Allah," katanya kepada Radar Jogja kemarin (24/12). Hadirnya di antara umat Katolik menjadi pacuan agar melakukan pekerjaan-pekerjaan bersama berkolaborasi dengan Allah dalam pekerjaan itu sendiri.
Tema merawat bumi, kata Craver, latar belakangnya tidak hanya sebatas masa Covid-19 kemarin yang mengakibatkan bumi meronta. Itu akibat manusia yang merongrong, mengeksplorasi bumi itu sendiri sehingga feedback-nya atau memberikan efek kepada manusia dengan dampak pandemi itu sendiri. Selain itu, tema merawat bumi juga diaktualisasikan dengan konteks Kota Jogja hari ini.
Menurutnya, sekarang bisa dilihat apa yang menjadi keprihatinan Kota Jogja adalah masalah sampah. "Masalah sampah menjadi bagian terpenting akhir-akhir ini. Sebagai pesan Natal sendiri terhadap peringtan kelahiran ini, kami mendorong umat membuat pembaharuan, juga pertobatan untuk mengolah sampah, ucapnya.
Dia meminta agar memperlakukan sampah tidak semata-mata sebagai sampah saja. Tetapi diharapkan bisa diberdayakan untuk diolah dan dipilah. Ketika sampah itu bisa di-recycle olah lah itu. Sampah basah dan sampah rumah tangga bisa dimanfaatkan tidak serta merta dibuang begitu saja.
Ia mengingatkan, sampah dapat diolah menjadi pupuk atau hal-hal lain yang bermanfaat bagi bumi. Menurutnya, sampah-sampah kering, kertas, dan plastik bisa bermanfaat juga bagi yang membutuhkan seperti pemulung. "Bisa kita berikan akses, sehingga memudahkan mereka jadi cara memperlakukan sampah bisa menjadi penekanan," bebernya.
Dia menilai, selama ini tidak pernah secara simple membedakan antara sampah organik dan anorganik. Kemudian memperlakukan sampah plastik berminyak akan dicuci terlebih dahulu atau tidak. Oleh karena itu, Craver menegaskan itu yang menjadi fokus, sebenarnya bagaimana umat beriman, umat Katholik bisa mempunyai mindset baru tentang pengolahan sampah.
Craver menambahkan, penekanan tema Natal kali ini adalah terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. Menurutnya, penekanan itu penting karena memang konteks setelah pandemi mengalami masa kegelapan. Itu lantaran beberapa tahun harus beribadah di rumah secara online dan sekarang terlihat bahwa terang itu bercahaya. Ada kesempatan untuk menikmati ibadah kembali di gereja.
Menurutnya, terang ini dikonkretkan supaya tidak merusak bumi. Oleh karena itu, ornamen dan dekorasi Natal di Gereja Kotabaru menggunakan barang-barang dari limbah botol plastik sebagai pohon Natal. Ditambah tanaman-tanaman yang dipakai asli atau hidup, bukan bunga potong. "Ini bisa memberikan penekanan cinta terhadap lingkungan sebagai respons terhadap masa kegelapan masa pandemi kemarin," tegasnya.
Craver menuturkan, tahun ini kepeduliannya terhadap lingkungan hidup, sehingga dekorasi diminimalisasi tidak memanfaatkan barang-barang mewah. Persis seperti pesan Paus Fransiskus supaya Natal ini tidak menjadi ajang konsumerisme, tidak menghambur-hamburkan uang untuk perayaan-perayaan. (rul/laz)
Editor : Satria Pradika