Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pakar: Wisatawan Gunakan Kendaraan Pribadi karena Flexible, tapi Bikin Macet Kota Jogja

Wulan Yanuarwati • Senin, 18 Desember 2023 | 02:29 WIB
MACET: Kendaraan bermotor melaju melambat di Jalan Mataram, Jogjakarta, Minggu (12/9). Kepadatan kendaraan terjadi di Jalan Mataram imbas dari penyekatan akses menuju kawasan Malioboro karena masih dalam status PPKM Level 3. foto : Guntur Aga Tirtana/Rada
MACET: Kendaraan bermotor melaju melambat di Jalan Mataram, Jogjakarta, Minggu (12/9). Kepadatan kendaraan terjadi di Jalan Mataram imbas dari penyekatan akses menuju kawasan Malioboro karena masih dalam status PPKM Level 3. foto : Guntur Aga Tirtana/Rada

RADAR JOGJA - Libur panjang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2023 diprediksi bakal terjadi kemacetan di beberapa ruas jalan di Yogyakarta. Terutama di daerah perkotaan yang memiliki ikonik Jogja seperti Malioboro dan Tugu Jogja.

Dosen Ilmu Pemerintahan bidang Keahlian Tata Kelola Perkotaan dan Smart City Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Prof Achmad Nurmandi mengatakan, DIY sebagai salah satu tujuan favorit wisatawan selalu dikunjungi saat akhir pekan dan hari besar lainnya, berpotensi macet. Apalagi ada tren menggunakaan kendaraan pribadi.

"Trennya sekarang kan bawa kendaraan sendiri karena akses tol itu akan lebih memudahkan mereka untuk visit. Karena kendaraan sendiri lebih fleksible," ujarnya Minggu (17/12/2023).

Maka dengan banyaknya kendaraan pribadi yang masuk ke Kota Jogja sudah dipastikan macet di beberapa ruas jalan. Apalagi, kondisi jalan di Kota Jogja lebarnya tidak sesuai standar yang ditetapkan secara internasional.

"Otomatis terjadi macet padahal lebar jalan itu kan tidak standar sebenarnya, paling hanya 15 meter, tidak standar. Harusnya kota itu kan 25 meter lebar jalan. Itu yang sebabkan crowded," jelasnya.

Lebar jalan di beberapa kota di Indonesia disebutkan Achmad memang tidak sesuai standar kota. Seharusnya standar 30 meter untuk dua jalur namun malah kisaran 15 meter sudah termasuk trotoar.

"Karena kota yang sudah ada dulu, baru dibikin perencanaan. Kan repotnya Indonesia gitu. Ada orangnya, baru bikin perencanaan. Gak mungkin digusur 35 meter (permukiman)," ujarnya.

"Jadi diutak-atik dikasih divider, satu jalur, rekayasa, gitu aja terus," imbuhnya.

Achmad menilai, kemacetan di dalam kota di Indonesia dalam tanda petik selalu dianggap normal. Namun kenormalan itu dari aspek teori sebetulnya tidak normal.

Kemacetan sebetulnya bisa dihindari dengan berbagai kebijakan. Termasuk keterlibatan dan peran stakeholder yang berkaitan dengan transportasi darat.

"Ya, saya sarankan bus kendaraan besar dilarang masuk kota tapi disediakan kantong parkir pinggir kota. Tapi kita gak bisa menghindari kendaraan pribadi, bukan bus. Otomatis masuk kota gitu," jelasnya.

Maka selain rekayasa lalu lintas, pemerintah daerah perlu merancang skema wisata di Jogja secara serius. Wisatawan perlu diberikan alternatif wisata luar kota Jogja. Meskipun mereka akan tetap ke Kota karena daya tarik Malioboro memang tidak bisa dipungkiri.

"Yang populer kan Malioboro, jadi top in mind Jogja ya Malioboro. Otomatis orang ke situ, tapi sekarang ada alternatif lain, tapi tetep aja orang ke pantai pasti ke Malioboro juga," ujarnya. (lan/laz)

Editor : Heru Pratomo
#Kota Jogja #macet #Universitas Muhamadiyah Yogyakarta #Nataru 2023 #smart city