Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Secara Filosofi Punya Makna seperti Motivator

Winda Atika Ira Puspita • Minggu, 17 Desember 2023 | 17:50 WIB
(Supriyadi, budayawan, pengurus Paguyuban Sastrawan Jawa Bantul)
(Supriyadi, budayawan, pengurus Paguyuban Sastrawan Jawa Bantul)

RADAR JOGJA - Dapur-dapur tradisional masa lalu tak terlepas dengan peralatan atau teknologi masak yang sangat sederhana. Selain tepas atau dalam bahasa Indonesia disebut kipas, para kaum ibu di Jawa juga sering menggunakan alat lain yang mempunyai fungsi sama. 

Alat itu di antaranya semprong. Hanya semprong ini lebih diutamakan untuk menyalakan bara api yang sedang padam dari keren, dhingkel, maupun luweng yang berbahan baku kayu. 

Apabila di tengah memasak apinya mati, maka untuk menyalakan api bisa menggunakan semprong. Caranya dengan meniupkan udara dari mulut di ujung semprong dan diarahkan ke lubang tungku tempat bara api. Lama-kelamaan bara api menyala dan kembali memanasi peralatan dapur yang dipakai memasak. 

"Sebetulnya itu oleh orang dulu dipakai karena murah meriah. Karena di setiap rumah pada waktu itu punya bambu. Kalau sekarang nggak semua tiap rumah punya bambu. Ya, sebetulnya kalau secara ekonomis waktu itu belum ada transaksi jual beli semprong," kata budayawan Supriyadi. 

Supriyadi yang juga Pengurus Paguyuban Sastrawan Jawa Bantul itu menilai, fungsi semprong itu sendiri berdasarkan filosofi adalah menghidupkan api. Api adalah unsur dari manusia yang paling dasar. Fungsional dari semprong adalah membakar. 

"Artinya semprong secara filosofis memiliki makna seperti motivator bagaimana menghidupkan api yang ada di dalam diri manusia. Karena fungsi api tidak hanya negatif, membakar merusak, tetapi berfungsi untuk menanak," ujarnya. 

Dia juga menilai semprong pantas masuk menjadi warisan budaya karena itu telah dipakai sejak zaman dahulu. Hanya, tinggal bagaimana melestarikannya saja. 

"Kalau dilestarikan tinggal pintar-pintar mem-branding-nya saja. Nanti dengan kuliner misalnya atau bagaimana karena orang zaman dulu konteksnya hidup tidak bisa lepas dari itu," tambahnya. (wia/laz)

 

 

Editor : Satria Pradika
#semprong #dapur tradisional