Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jogja Berpotensi Terpapar Gelombang Panas

Iwan Nurwanto • Senin, 9 Oktober 2023 | 13:10 WIB

 

TERIK :Pengguna jalan melintas saat siang hari di perlintasan kereta api kawasan Lempuyangan, Kota Jogja, Kamis (28/9/23).Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja
TERIK :Pengguna jalan melintas saat siang hari di perlintasan kereta api kawasan Lempuyangan, Kota Jogja, Kamis (28/9/23).Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja

SLEMAN - Beberapa negara di Asia, salah satunya Korea Selatan kini sedang diterpa bencana gelombang panas. Banyak korban jiwa akibat fenomena tersebut. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pun menjelaskan kemungkinan bencana itu terjadi di Jogjakarta.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jogjakarta Reni Kraningtyas mengatakan, bencana gelombang panas kemungkinan kecil bisa terjadi di Indonesia. Karena nusantara merupakan wilayah kepulauan yang dikelilingi perairan.

Menurut Reni, dengan kondisi negara Indonesia yang wilayah laut lebih besar dibandingkan daratannya maka gelombang panas bisa tereduksi. Sederhananya, paparan sinar panas menyengat dari matahari pada musim kemarau dapat dinetralisir oleh perairan.

"Biasanya gelombang panas bisa terjadi pada suatu wilayah yang topografinya berupa daratan yang luas," ujar Reni kepada Radar Jogja Sabtu (7/10).

Sementara terkait capaian dengan fenomena suhu panas, Reni menyebut, dalam beberapa hari terakhir ini tutupan awan hujan di wilayah Jogjakarta relatif tipis. Sehingga membuat sinar matahari menjadi semakin terik.

Dari pantauan BMKG, suhu udara di Jogjakarta dalam sepekan terakhir suhu terendah mencapai 22 derajat celcius. Sementara untuk suhu udara tertinggi, kisaran 32-34 derajat celcius. Dia pun meminta agar masyarakat menjaga kondisi tubuh.

"Sebenarnya tidak berbahaya kalau suhu udara 35 derajat atau lebih, namun dampaknya ke tubuh bisa mengalami dehidrasi," katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Sleman Esti Kurniasih menyampaikan, penyakit pernapasan memang kerap dikeluhkan pada musim kemarau. Hal itu karena kondisi udara yang kering dan membuat debu banyak berterbangan lalu masuk ke sistem pernapasan.

Selain itu, lanjut Esti, sudah banyaknya masyarakat yang tidak menggunakan masker juga berdampak pada masifnya penyebaran jenis penyakit tersebut. Sebab dengan tidak terlindunginya hidung dan mulut, membuat virus penyakit semakin mudah ditularkan antarmanusia. "Paling banyak dikeluhkan batuk dan pilek," ungkap Esti. (inu/eno)

Editor : Satria Pradika
#Gelombang Panas #Suhu Panas #BMKG