RADAR JOGJA - Beberapa waktu lalu, Keraton Jogjakarta menggelar Grebeg Maulud sebagai perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Sebelum Grebeg Maulud digelar, biasanya di sekitaran Masjid Gedhe Kauman dengan mudah dijumpai para penjual nasi gurih atau sega gurih.
Nasi gurih menjadi makanan khas yang erat kaitannya dengan momentum sekaten. Ini turut dimanfaatkan sebagai momentum atau mencari berkah bagi para penjual sega gurih dengan menjajakan dagangannya.
Salah satu pedagang sego gurih yang turut menjajakan dagangannya saat momentum sekaten adalah Yuni Amperawati, 56.
Sejak tahun 1995 hingga saat ini, dia khusus menjual sega gurih saat momentum sekaten. Biasanya, dia menjual sega gurih selama 7 hari sebelum hingga dimulainya Grebeg Maulud. Sega gurih biasanya menjadi teman masyarakat sembari mendengarkan alunan gamelan.
“Pertama para pengunjung itu mendengarkan gamelan dulu. Setelah itu mampir beli sego gurih. Setelah beli nasi gurih beli inang, habis itu beli telur merah,” jelas Yuni saat ditemui di kediamannya di RT 39 RW 11 Kampung Kauman, Jumat (29/9).
Dalam satu porsi sego gurih berisi nasi, kacang, kedelai, tempe, dan kacang tholo. Ada juga rese atau udang kering, bumbu pecel, dan abon.
Dilengkapi juga dengan srundeng, timun, kobis, lalapan, serta rambak.
Baca Juga: Masuki Dua Tahun Prosesi Sekaten tanpa Pasar Malam, Ini Alasan dari Keraton Jogja
Soal harga, Yuni melayani sesuai permintaan pembeli, mulai dari Rp 10 ribu untuk satu porsi tanpa telur.
Sementara jika pakai telur, perporsinya dibanderol dengan harga Rp 15 ribu. Saat ditanya soal omzet, dia mengaku tak merinci secara detail.
“Satu hari bisa lebih dari 50 porsi, ya kira-kira 100-an porsi,” ujarnya.
Yuni tak sendirian. Dia ditemani sang suami dan satu karyawannya. Persiapan dilakukan sejak pukul 06.00 WIB di sekitaran Masjid Gedhe Kauman.
Dimulai dengan memasak nasi gurih yang masih diproses dengan cara tradisional. Sementara pada pukul 09.00 WIB, dagangannya telah ludes terjual.
Baca Juga: Ada Gunungan hingga Ingkung Ayam, Saparan di Lereng Gunung Andong Lebih Meriah Ketimbang Lebaran
Suami Yuni, Hilman Widodo, 60, menjelaskan pada tahun 1970-an, penjual sego gurih di sekitar Masjid Gedhe Kauman itu hanyalah warga sekitar Kampung Kauman.
“Lalu gethok tular, dari Bantul, dari Wonosari kemari,” kata Hilman yang juga sebagai Ketua RT 39 ini. (isa)