RADAR JOGJA - Bagi warga Jogja barangkali sudah tidak asing dengan kuliner Brongkos Handayani. Kuliner ini terbilang legend karena masih eksis sejak buka pertama kali tahun 1975. Lokasinya juga mudah ditemui. Tepatnya di kawasan Alun-Alun Kidul (Alkid).
Warung makan sederhana ini berdiri di atas tanah seluas 70 meter persegi. Tepat di bagian belakang menempel dengan bangunan beteng yang kini dicat berwarna kuning dan oranye. Di sisi samping dinding juga terpasang keramik berwarna putih dengan corak warna biru.
Cepat atau lambat, warung milik Tri Suparmi ini akan dikembalikan ke Keraton Jogja. Ini dalam rangka revitalisasi bentuk utuh Keraton Jogjakarta yang kini tengah digencarkan pembangunannya.
Tri mengaku hingga saat ini belum menerima pemberitahuan apapun soal revitalisasi beteng. Baik dalam bentuk surat maupun sosialisasi dari pihak Keraton."Wilayah sini belum (sosialisasi) apa-apa kok. Kalau samping beteng itu sudah yang dalam. Kalau sini belum," kata Tri, Rabu (27/9/23).
Dengan penuh keyakinan, Tri mengatakan tak masalah jika tanah yang kini dia gunakan untuk mencari rezeki itu diminta kembali oleh pihak Keraton Jogja. Dia menyadari betul tanah itu bukan sepenuhnya miliknya. Meskipun kedua orang tuanya telah berjuang keras merintis usaha kuliner brongkos ini sejak tahun 1975 silam."Sewaktu-waktu diminta ya kami kembalikan. Wong diminta yang punya kok. Alhamdulilah sudah boleh nempati hampir 50 tahun," kata ibu dua anak ini.
Firasat untuk meninggalkan lahan ini sebenarnya sudah dia rasakan sejak 2015 lalu. Pada saat itu, Tri hendak membayarkan pajak magersari. Hanya saja, pembayaran pajak tak diproses."Alasannya sudah dipasrahkan Pemkot Jogja. Keraton sudah tidak menerima," kata Tri sembari mengelus kucing peliharaannya.
Sejak saat itu kekhawatiran mulai muncul. Ketua pedagang di wilayah setempat meminta para pedagang untuk tidak menolak jika diminta untuk pindah. Justru, pedagang diminta untuk menyiapkan dana tabungan. Jadi, jika sewaktu-waktu pindah, pedagang telah punya lahan atau rumah pengganti. "Manut aja. Di tempat kami kan ada ketuanya. Itu katanya besok manut aja. Kalau tidak manut nanti malah nggak dapat ganti apa-apa," imbuhnya.
Sejak 2015 itu Tri mulai menyisihkan sedikit demi sedikit omzet jualannya untuk fokus membeli lahan baru. Setiap pagi, dia selalu menghitung pendapatan warung. Lalu disisihkan untuk modal dan gaji karyawan. Sisanya, dia sisihkan lagi untuk ditabung."Alhamdulillah ya sudah punya tempat, tapi agak jauh. Di dekat Kampus Universitas PGRI," katanya.
Lagi-lagi Tri mengaku tak ada rasa kecewa. Dia juga tak terlalu khawatir pada dampak ke usahanya. Berbagai strategi telah dia siapkan jika sewaktu-waktu harus pindah. Misalnya, dia akan mulai menggunakan sosial media untuk memasarkan brongkosnya. Selain itu, Brongkos Handayani juga akan mulai masuk aplikasi ojek online."Buka warungnya di rumah. Tapi kalau jadi, ada tempat di dekat Alkid. Nanti kerja sama dengan teman," kata penerus kedua Brongkos Handayani ini.
Saat ditanya soal omzet, Tri tak mau mengatakan secara gamblang. Hanya saja setiap harinya dia mampu menjual ratusan porsi brongkos. Pelanggannya pun tak hanya dari Jogjakarta, tapi juga wisatawan luar Jogja. Usaha ini telah mampu menghidupinya beserta keluarga. "Ada beberapa karyawan juga yang saat ini saya pekerjakan," ujarnya.
Tri tak tahu pasti kapan dia harus mengosongkan warungnya. Saat ditanya soal besaran bebungah, Tri pun tak tahu soal kapan dan berapa besarannya.
"Kalau di surat magersari itu malah tidak ada kata ganti. Kalau mau pergi, pergi. Nek arep mbok gowo, gowonen. Ya nanti dicopoti," tuturnya sembari menunjuk beberapa bingkai foto yang menempel di dinding. (isa/din)