RADAR JOGJA - Harga beras merangkak naik berkisar mencapai Rp 14.500 dari semula Rp 11 - Rp 12 ribu per kilogram. Kenaikan ini disebabkan karena panen berkurang. Di sisi lalin petani mengatur pola tanam semula padi menjadi palawija mengantisipasi musim kemarau panjang.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIJ Syam Arjayanti mengatakan, penyebab kenaikan harga beras memang dipicu karena panen berkurang.
Ada masa-masa panen raya, tetapi saat ini para petani baru mengalami musim paceklik. Kondisi puncak panen saat ini produksinya berkurang, dipicu karena musim kemarau panjang.
Biasanya antara kebutuhan dan panen tiap tahun di Maret, April pada puncak panen produksinya selalu di atas kebutuhan. “Apalagi ini diprediksi musim kemarau panjang, sehingga para petani sudah dianjurkan beralih pola tanam palawija,’’ katanya di Kompleks Kepatihan Kamis (8/9/23).
Syam menjelaskan berdasarkan pantauan di sejumlah pasar tradisional, kenaikan harga beras medium tertinggi hingga Rp 13 ribu per kilogram. Angka ini diklaim sudah di atas harga eceran tertinggi (HET). Kenaikan harga beras ini juga berdampak pada kenaikan untuk beras SPHP, beras cadangan pemerintah. "Karena ada kenaikan harga di tingkat petani, sehingga beras SPHP ada kenaikan tapi by datanya saya nggak hafal. Karena ada beberapa lokasi dengan harga berbeda-beda," ujarnya.
Disperindag DIJ juga akan terus menggencarkan operasi pasar dan pasar murah sampai akhir tahun mendatang. Sebab, dimungkinkan harga beras akan turun sekitar Februari 2024 mendatang. "Harapan kita tidak naik terus, dengan adanya operasi pasar dan pasar murah beras tidak semakin naik," jelasnya.
Giat operasi pasar maupun pasar murah ini bekerjasama dengan Bank Indonesia (BI) Jogjakarta di empat pasar pantauan. Sementara, untuk beras SPHP ke beberapa lokasi di kabupaten. " Secara tonase sudah sekitar 8 ton beras kami gelontorkan untuk pengendalian harga," terangnya.
Dia pun mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembelian secara berlebihan. Dipastikan kebutuhan beras masih mencukupi di wilayah DIJ ini. "Saat ini ada cukup dan tidak usah khawatir dan borong. Belanja aja sesuai kebutuhan. Cukup kita yakinkan beras cukup tersedia," pesannya.
Seorang pedagang beras di Pasar Prawiorataman Idris (40) mengatakan, kenaikan harga sekarang dialami seluruh jenis beras. Seperti harga beras premium mencapai Rp 14.500 per kilogram atau mengalami kenaikan dari harga normal yakni Rp 12.000. Kenaikan juga dialami beras kualitas medium dari Rp 11.500 menjadi Rp 13.000.
Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Sleman Suparmono mengatakan, untuk saat ini stok gabah dan beras di Sleman masih cukup aman. Sebab dari pendataan di beberapa titik penggilingan produksi beras masih cukup tinggi.
“Pada September ini saja, untuk stok beras di Sleman mencapai 101,9 ton dan stok gabah di wilayah tersebut menyentuh 100 ton. Kemudian untuk konsumsi masyarakat per bulan mencapai 6,1 ton dengan harga jual beras kelas medium Rp. 12.500 per kilogram,’’ ujarnya.
Kepala Bidang Usaha Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman Nia Astuti menyatakan, musim kemarau memang cukup berpengaruh terhadap produksi padi. Hal itu kemudian berdampak pada meroketnya harga komoditas beras karena minimnya stok di pasaran.
Dari hasil pantauannya di beberapa pasar tradisional harga beras memang cenderung mengalami kenaikan. Untuk beras jenis medium kini harganya menyentuh Rp. 12.800 perkilogram. Kemudian untuk beras jenis premium kini menyentuh harga Rp. 13 ribu sampai 14 ribu per kilogram.
Disperindag Sleman akan berkoordinasi dengan Bulog untuk melakukan operasi pasar dan menggelar pasar murah.
Rencananya akan ada 17 kapanewon yang menjadi sasaran kegiatan tersebut pada pertengahan September mendatang."Beras yang kami sediakan dalam pasar murah itu terutama pada komoditas beras medium, besarnya 6 ton per kapanewon," terang Nia. (wia/inu/din)
Editor : Satria Pradika