RADAR JOGJA – Pertumbuhan usaha kopi di wilayah DIJ mengalami pertumbuhan yang sangan positif. Terbukti setiap tahunnya, perputaran transaksi kopi di DIJ mencapai Rp 500 miliar.
Jumlah tersebut, diakumulasikan dari total pengusaha kopi di DIJ yang mencapai 9.000. "Menurut data yang saya peroleh," beber Dewan pembina Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) DIJ Tazbir Abdullah di gelaran Jogja Coffee Week Jumat (1/9/23).
Dia pun merinci, 9.000 pengusaha kopi tersebut terbagi oleh 6.000 warung tenda dan cafe yang berjumlah 3.000. Jumlah tersebut disebutnya masih terus bertambah waktu ke waktu.
Diakuinya bahwa bisnis kopi jadi salah satu bisnis yang kini cukup banyak dipilih oleh anak-anak muda. Wilayah DIJ sendiri juga memiliki beberapa kebun dan olahan kopi lokal yang cukup dikenal.
"Dari lima kabupaten/kota yang tidak ada kebun kopi itu cuma Bantul dan Jogja, tapi penikmat dan marketnya itu tinggi secara data," lontarnya.
Terpisah, PJ Walikota Jogjakarta Singgih Raharjo mengapresiasi gelaran Jogja Coffee Week dan mengakui bahwa kopi kini sudah jadi lifestyle dan kebutuhan.
"Bahkan orang-orang yang tidak suka kopi juga menyumbang andil ke cafe karena varian atau turunan dari kopi juga beragam," sebutnya.
Diakui Singgih, walaupun dari sisi jumlah kebun dan kopi yang dihasilkan dari wilayah DIJ tidak sebanyak daerah lain tapi dirinya meyakini bahwa DIJ memiliki nilai otentik tersendiri.
"Seperti kopi dari Merapi dan Menoreh, bisa jadi aksi untuk menumbuhkan coffee shop dan barista baru yang dikombinasikan dengan lifestyle sekarang," lanjutnya.
Lebih lanjut, Singgih menilai bahwa pertumbuhan dan lifestyle kopi juga berdampak baik dari segi ekonomi sekaligus wisata. Dengan ragam konsep dan tema kopi yang beragam, hal itu bisa menarik masyarakat untuk memilih sesuai konsep yang mereka inginkan.
"Pilihannya makin banyak, dari ngopi di gang, di cafe sampai pinggiran sungai juga ada, jadi ekonomi dan wisatanya hidup," tuturnya. (iza/eno)