
JOGJA - Kualitas udara di Kota Jogja dilaporkan masuk kategori tidak sehat. Kondisi tersebut disebabkan partikel debu halus atau Particulate Matter (PM2.5) yang konsentrasinya meningkat akibat musim kemarau panjang.
Ketua Tim Kerja Pengawas Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja Intan Dewani mengatakan, kondisi cuaca panas dan kering memang membuat kualitas udara memburuk. Lantaran partikel debu halus semakin mudah terbentuk dan beterbangan di udara.
Berdasarkan data di situs pemantauan kualitas udara IQAir, kualitas udara di Yogyakarta memang masuk kategori tidak sehat dengan skor 167. Dalam situs tersebut disampaikan PM2,5 merupakan polutan utama dengan konsentrasi sebesar 79 mikrogram per meter kubik.
Terkait data pasti di DLH Kota Jogja, Intan mengaku belum bisa mengukur secara pasti karena alat Air Quality Monitoring System (AQMS) masih rusak dan menunggu penggantian dari kementerian. Sehingga belum ada data untuk mendukung kandungan polutan udara.
Meski demikian, ia tidak menampik pada kondisi-kondisi tertentu kualitas udara memang memburuk. Misalnya pada siang atau sore hari yang menjadi jam-jam sibuk aktivitas kendaraan. Sementara di luar itu kualitas udara dapat dikatakan normal atau konsentrasi polutan rendah.
Baca Juga: Viral Penarikan Tarif Rp 129.500 per Jam di Wisdom Park UGM bagi Rombongan, Pengunjung Pilih Bubar
“Musim kemarau cenderung PM2.5 meningkat. Asap kendaraan penyumbang polutan paling tinggi,” ujar Intan saat dikonfirmasi lewat sambungan telepon, Rabu (14/10/2026).
Salah satu warga Kota Jogja Purwanto menilai kualitas udara selama musim kemarau ini memang cukup tidak sehat. Salah satu indikatornya adalah mulai sering timbulnya penyakit pernapasan seperti batuk dan radang tenggorokan.
“Kalau tidak salah sata dari Juni sampai Oktober ini saja setidaknya sudah tiga kali kena radang tenggorokan,” ungkap pria 36 tahun ini.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kota Jogja Lana Unwanah menyampaikan bahwa infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) memang menjadi ancaman selama musim kemarau hingga pancaroba. Bahkan bisa berbahaya bagi lansia dan balita.
Berdasarkan catatan Dinkes Kota Jogja, selama musim kemarau dan mendekati pancaroba kasus ISPA memang mengalami peningkatan cukup signifikan. Hingga pertengahan tahun tercatat ada 61.845 kasus ISPA yang dilaporkan ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




