Perkembangan Skena Custom di Jogja Cukup Progresif

JOGJA - Perkembangan industri dan komunitas custom di DIY dinilai semakin menunjukkan pertumbuhan. Bukan hanya dari jumlah builder dan penggemar, tetapi juga dari semakin banyaknya event yang ikut memunculkan dan mempertemukan pelaku di dalam skena tersebut.
Media Relation Indonesian Custom Show (ICS) 2026 Febrianita Candra mengatakan, secara garis besar perkembangan skena custom di Jogja dalam beberapa tahun terakhir cukup progresif. Semakin banyak event otomotif dan custom turut mendorong pertumbuhan builder maupun custom enthusiast.
"Banyak builder yang makin tumbuh. Tadinya bengkel-bengkel yang mungkin spiritnya belum bangkit, dengan makin banyak event otomotif, event custom semakin banyak di Jogja, skena-skenanya juga makin banyak muncul," kata Febrianita saat ditemui di ICS 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Sabtu (22/8/2026).
Baca Juga: Sejarah Rumah Sakit Tertua di Jogja: RS Bethesda yang Sudah Ganti Nama 4 Kali
Ia menyebut sejumlah event dan skena yang bermunculan membuat geliat custom di Jogja semakin berkembang. Kondisi itu juga diikuti dengan meningkatnya permintaan dari masyarakat.
"Itu yang menjadikan spirit teman-teman builder atau custom enthusiast juga makin berkembang dan semakin baik. Itu kenapa kami juga semakin mewadahi karena demand-nya juga semakin tinggi di Indonesia, terutama di Jogja," ujarnya.
Menurut Febrianita, DIY bahkan memiliki sejumlah segmen custom yang cukup kuat. Salah satunya custom motor matik yang disebut menjadi salah satu bagian terbesar dalam industri custom di kota ini.
"Kalau di DIY sendiri cukup siap, karena ada beberapa section yang terbesarnya itu di sini. Misalnya custom motor matic, itu terbesarnya ada di Jogja," katanya.
Baca Juga: Budaya Kustom di Jogja Makin Berkembang, Event Otomotif Jadi Ruang Temu Antara Builder dan Konsumen
Geliat tersebut juga tercermin dari jumlah karya yang masuk dalam ICS 2026. Dari total submission yang mencapai lebih dari 500 custom car dan custom bike, lebih dari 200 karya dinyatakan lolos untuk mengikuti kontes, exhibition, maupun display.
Peserta tidak hanya berasal dari DIY. Febrianita menyebut submission juga datang dari berbagai daerah, mulai Bali, Nusa Tenggara Timur, dan Sumatera. Ia memperkirakan sekitar 40–50 persen submission berasal dari DIY.
Menurutnya, karya yang tidak lolos kurasi juga tidak serta-merta dianggap gagal. Sebab, setiap karya dinilai berdasarkan sejumlah kriteria yang ditetapkan penyelenggara.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




