Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kadar Air Masih Tinggi, RDF Hasil Olahan Sampah Sleman Dijual dengan Harga Rendah

D
Penulis: Delima Purnamasari❯
TPST Sendangsari. 
TPST Sendangsari. 

SLEMAN - Penanganan sampah di Kabupaten Sleman utamanya bertumpu pada Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST).


Advertisement

Nantinya sampah akan diolah menjadi refuse derived fuel (RDF) yang setiap hari dijual ke Cilacap sebagai pengganti bahan bakar.

Kepala UPTD Persampahan Kabupaten Sleman Singgih Budiyana menjelaskan, harga terbaik untuk RDF anorganik sebesar Rp 425 ribu tiap ton dengan kadar air di bawah 25 persen.

Hanya saja rata-rata yang dijual dari Kabupaten Sleman pada harga Rp 72 ribu hingga Rp 115 ribu untuk tiap tonnya.

Advertisement

Kondisi ini terjadi karena kadar air yang masih tinggi. Padahal, omzet tersebut belum dikurangi biaya ongkos sebesar Rp 224 ribu tiap ton.

Begitu pula untuk RDF organik. Harga terbaiknya Rp 250 ribu tiap ton dan biaya ongkosnya sebesar Rp 72 ribu tiap ton.

Sementara RDF organik Kabupaten Sleman hanya dibeli dengan harga rata-rata Rp 9000.

Advertisement

"Kami belum mampu mencapai harga maksimal karena kadar airnya tinggi. Meski sudah dipress tetap susah memenuhi standar. Pernah sampai 40 persen," terangnya ditemui di TPST Sendangsari, Rabu (12/11).

Menurut Singgih, kondisi ini bisa terjadi karena beragam faktor.

Salah satunya karena sampah yang diambil memang sudah dalam kondisi basah, apalagi tercampur dengan bahan organik.

Selain itu, tidak dilakukan penjemuran sampah oleh TPST.

Apabila sampah dihamparkan untuk dijemur umumnya akan berdampak bau di sekitar lingkungan dan diprotes oleh masyarakat.

"Kami mengharapkan warga untuk membantu memilah. Terutama untuk sampah organik bisa dijadikan kompos atau pakan ternak," pesannya.

Sementara itu, Anggota DPRD Kabupaten Sleman Shodiqul Qiyar menilai, solusi dari persoalan ini adalah diberikan tambahan alat berupa oven.

Agar nantinya RDF yang dihasilkan benar-benar kering tanpa harus berdampak bau pada masyarakat jika dijemur manual.

"Saya nilai juga perlu meningkatkan sampah yang diolah. Di TPST Sendangsari kapasitas 60 ton tapi yang diolah baru 20 sampai 25 ton," tambahnya. (del)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar JogjaIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Disdikpora Catat Ribuan Anak di DIY Putus Sekolah, Disinyalir Pilih Bekerja dan Enggan Kembali Belajar

Disdikpora Catat Ribuan Anak di DIY Putus Sekolah, Disinyalir Pilih Bekerja dan Enggan Kembali Belajar

Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DIY mencatat sebanyak 5.023 anak di DIY masih berstatus anak tidak sekolah (ATS) hasil verifikasi per Mei 2026. Mayoritas anak putus sekolah tersebut disinyalir memilih

12 ODGJ di Gunungkidul Masih Dipasung, Keluarga Khawatir Mengamuk hingga Hilang Jadi Alasan

12 ODGJ di Gunungkidul Masih Dipasung, Keluarga Khawatir Mengamuk hingga Hilang Jadi Alasan

Praktik pemasungan terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) masih ditemukan di Kabupaten Gunungkidul. Hingga kini, tercatat ada 12 ODGJ yang masih dipasung oleh keluarga dengan berbagai alasan. Mulai dari ...

Padukuhan Kedung Buweng Ingin Gandeng DLH Bantul untuk Atasi Persoalan Sampah

Padukuhan Kedung Buweng Ingin Gandeng DLH Bantul untuk Atasi Persoalan Sampah

Persoalan sampah masih menjadi pekerjaan rumah bagi warga Padukuhan Kedung Buweng. Pengalaman buruk akibat bau sampah mendorong Padukuhan Kedung Buweng berencana koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten..

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer