RADAR JOGJA – Kurma umumnya tumbuh di lahan gersang di padang pasir. Namun seorang warga Padukuhan Karangasem, Sendangtirto, Berbah, Sleman, Suparyoto berhasil mengembangkan pohon kurma di lahan pekarangannya. Seperti apa?

MEITIKA CANDRA LANTIVA, Sleman, Radar Jogja

Ketertarikan Suparyoto menanam kurma sejak 2016 lalu. Sebanyak 5 ribu pohon kurma yang dijual bibit dan 50-an pohon kurma yang hendak dibuahkan tumbuh subur di pekarangannya seluas 3.500-4.000 meter persegi.
“Sudah sempat berbuah. Tumbuh lebih cepat, buahnya manis dan dagingnya memal,” terang Suparyoto di rumahnya kemarin (31/3).

Dia mencoba mengambil peluang. Karena di Indonesia peminatnya tinggi. Harapnnya kurma yang dia tanam nantinya dapat menyuplai kebutuhan masyarakat lokal. Terlebih saat Ramadan seperti ini, tingkat konsumsi kurma juga naik.

“Kurma kita sekarang ini kan masih impor. Apalagi Indonesia menjadi importer kurma terbesar nomor dua di dunia, harapnnya ini jadi peluang,” tutur Suparyoto di rumahnya, kemarin.

Dia meyakni kondisi tanah yang subur dan air melimpah, maka pohon kurma lebih cepat tumbuh dan berbuah. “Ibaratnya tongkat kayu dan batu menjadi tanaman dan bisa berbuah,” lanjutnya. Itu dibuktikan dengan pohon kurma yang dia tanam. Menurutnya tumbuh lebih cepat.

Pohon kurma berbuah paling cepat 18 bulan atau 1,5 tahun. Namun pada kelas perkebunan yang dikomersialkan, idealnya ketika pohon berusia 4-5 tahun. Saat itu pohon sudah besar, akarnya kuat dan bunganya banyak.

Ada lima sampai tujuh macam pohon kurma yang bisa berbuah. Antara lain, kurma barhee, ajwa atau kurma nabi, kurma taba, medjool, sukari dan khalas. “Namun disini yang paling menonjol ada tiga barhee, ajwa atau kurma nabi, kurma taba,” bebernya.

Penanaman pohon kurma lebih mudah karena tahan cuaca. Perhitungannya, luasan seribu meter persegi bisa ditanami 40 bibit kurma. Menjanjikan, karena satu kilogram buah kurma yang masih muda nilainya tinggi. Dibanderol Rp 150 ribu – Rp 250 ribu. Untuk buah kurma yang tua, atau matang di pohon dibanderol lebih mahal lagi. Berkisar Rp 200 ribu – Rp 300-an ribu tergantung grade. Untuk jenis biasa lebih murah Rp 30 ribu – Rp 50 ribu per kg.

Pensiunan pegawai negeri sipil (PNS) di Komisi Penyiaran DIJ itu mengaku suka bertani sejak kecil. Saat duduk di bangku SMA dia sudah berhasil mengembangkan kebun jeruk juga jambu. “Terbilang sukses. Tapi karena fokus sekolah, pertaniannya menjadi tidak terkelola dengan baik,” katanya.
Nah, pasca pensiun dari pekerjaannya itu, dia kembali fokus menanam buah, tak lain kurma tersebut. Dia dibantu dua pegawai dan keluarganya.

Bibit kurma dijual sesuai besar kecilnya bibit. Dengan usia bibit layak jual sekitar satu tahun. Harganya dibanderol mulai Rp 40 ribu – Rp 350 ribu. “Sudah banyak yang pesan (bibit kurma, Red). Rata-rata malah dari luar kota bahkan luar Jawa. Kalau tetangga sini ada tapi tidak banyak,” bebernya.

Karena belum banyak petani yang membudidayakan kurma. Dia ingin mengawali. Dengan memberikan edukasi kepada masyarakat khususnya generasi muda. Agar minat bertani. “Karena bertani kurma itu mudah tak perlu bergelut dengan lumpur, prospeknya juga baik,” tandasnya. (bah)

Jogja Utama