RADAR JOGJA – Acara Pekan Doa Sedunia untuk Kesatuan Umat Kristen berjalan khidmat di Gereja Huria Kristen Batak Protestan Jogjakarta, kemarin (24/1). Acara ini diselenggarakan secara rutin setiap tahun, mengambil tempat bergantian antara Gereja Katolik dan Gereja Kristen yang ada di DIJ.

Ketua acara Pendeta Bernat W. Panggabean mengatakan, gerakan Pekan Doa Sedunia 2023 diharapkan dapat mempererat tali persaudaraan di antara para pemimpin dan jemaat umat Katolik serta umat Kristen di DIJ. “Gerakan ini menyiapkan generasi toleran lintas iman dalam ikatan ekumenis. Untuk itu kelompok sasaran termasuk orang-orang muda dari berbagai kelompok agama,” jelasnya.
Gerakan ini juga diharapkan dapat memberi ruang dialog lintas gereja. Dengan begitu dapat membuka kemungkinan adanya tindak lanjut kerja sama dalam bentuk lain. Selain itu diharapkan dapat membangun suasana persaudaraan di antara umat Kristiani dalam upaya membangun masyarakat toleran di DIJ.
Sementara itu Romo Adrianus Maradiyo dari Gereja Katolik Kevikepan Jogjakarta mengatakan, tema pekan doa sedunia kali ini selaras dengan arah dasar Keuskupan Agung Semarang, yakni “Tinggal dalam Kristus dan Berbuah: Bersatu dan Bersinergi demi Indonesia Damai.”
“Umat Katolik Keuskupan Agung Semarang dan Kristen Protestan bersinergi agar gerakan berbuat baik dan upaya mewujudkan keadilan dapat nyata dialami dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Kita semua dipanggil untuk bekerja sama mewujudkan Indonesia damai,” jelasnya.
Pimpinan Perkumpulan Badan Kerja Sama Antar Denominasi Kristen (BKSADK) DIJ Pendeta Agus Haryanto mengatakan, gereja-gereja paroki tidak boleh lupa akan saudara-saudari dari gereja-gereja lain di lingkungannya. Relasi yang tulus perlu dibangun sehingga memungkinkan adanya persaudaraan yang tulus.
“Pekan doa ini tentu tidak hanya menjadi momen tahunan karena sebenarnya persaudaraan ini perlu menjadi bagian dari hidup sehari-hari kita,” ujarnya.
Diketahui, pekan doa sedunia merupakan gerakan yang diinisiasi pada 1908 yang dimulai oleh beberapa denominasi Kristen. Kemudian pada 1964, Gereja Katolik mengeluarkan dorongan untuk mengadakan gerakan ekumenisme yang mempertegas untuk pelaksanaan gerakan-gerakan persaudaraan antargereja.
Sejak 2004 terjadi kesepakatan dari Dewan Gereja-Gereja Sedunia (World Council of Churches) yang diwakili komisi Faith and Order dan Gereja Katolik dari Dewan Kepausan untuk memajukan kesatuan Kristiani. Sementara bahan-bahan pekan doa untuk kesatuan umat Kristiani disusun dan diterbitkan bersama.
Sejak saat itulah gerakan ini semakin berkembang. Setiap tahun gerakan ini dilaksanakan di berbagai tempat di seluruh dunia dengan format ibadah yang senada. (lan/laz)

Jogja Utama