RADAR JOGJA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja mulai menggeliatkan skrining kesehatan jiwa di sekolah. Libatkan remaja sebagai konselor kesehatan jiwa sebaya. Bangun pendidikan inklusi dalam penanganan tepat kesehatan jiwa di sekolah.
Kasi P2PTM dan Kesehatan Jiwa Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja dr Iva Kusdyarini membenarkan, kesehatan jiwa di Kota Pelajar perlu perhatian. Salah satunya bagi murid yang berada dalam rentan usia anak dan remaja. “Di beberapa puskesmas, pengelola program jiwa, mulai gandeng remaja untuk bisa menjadi kader dan konselor sebaya,” ungkapnya dalam kegiatan di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja kemarin (24/1).
Konselor sebaya, diharapkan berperan sebagai teman curhat temannya. Kemudian menginformasikan pada tata laksana lebih lanjut jika dibutuhkan. “Mereka akan merujuk ke psikolog di puskesmas,” sambungnya.
Dibeberkan pula, Dinkes Kota Jogja tengah mengembangkan Sekolah Sehat Jiwa. Program melatih sekitar lima SMP. Terdiri dari masing-masing satu guru, satu siswa, dan satu siswi. “Harapan kami, nanti dikembangkan di lingkungan sekolah. Bekerja sama dengan teman puskesmas. Kalau kader jiwa puskesmas, itu tergantung puskesmas dalam merangkul remajanya,” bebernya.
Sementara itu, Psikolog Puskesmas Gondokusuman I Inggit Kartika Sari membeberkan, Dinkes Kota Jogja mulai melakukan skrining kesehatan di sekolah. Dalam kegiatan ini, siswa akan menjalani pemeriksaan fisik dan mental. “Ini kami lakukan pada semua sekolah di Kota Jogja. Baik SD, SMP, dan SMA,” sebutnya.
Pemeriksaan kesehatan jiwa sedianya telah menjadi program dari Dinkes Kota Jogja. Namun sempat terhambat pelaksanaannya akibat pandemi Covid-19. Sehingga baru aktif kembali pada akhir tahun lalu. “Tahun ini sudah kami mulai sejak di awal, karena pandemi sudah makin berkurang,” lontarnya.
Inggit juga menyatakan, penting bagi sekolah untuk tahu kondisi kesehatan jiwa siswanya. Dalam rangka membangun sekolah inklusi. Dengan melakukan skrining, kemampuan siswa dapat diketahui. Sehingga sekolah dan wali siswa tahu, treatment yang tepat bagi anak. “Kadang kelihatannya sama-sama, cemas. Tapi beda sumber. Sehingga beda penanganan,” paparnya.

Kasus yang ditemui Inggit, mayoritas anak dan remaja mogok berangkat sekolah. Dipengaruhi oleh beberapa faktor. “Akibat bullying dan masalah keluarga yang mempengaruhi dia tidak mau berangkat sekolah. Mending di rumah saja. Beresin rumah dan sebagainya,” rincinya. (fat/eno)

Jogja Utama