RADAR JOGJA – Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja konsentrasikan potensi bangunan cagar budaya (BCB) di wilayah Kotagede. Ditargetkan, pengajuan BCB di Kotagede rampung tahun ini.

Kepala Bidang (Kabid) Warisan Budaya Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Jogja Susilo Munandar mengungkapkan, isi rapat awal tim ahli cagar budaya (TACB). Dikatakan, KCB Kotagede menjadi konsentrasinya menilik potensi BCB. Bahkan ditarget, seluruh potensi BCB di Kotagede rampung diajukan pada tahun ini. “Kalau TACB memutuskan dan memenuhi kriteria akan diusulkan untuk ditetapkan,” jelasnya.

Beberapa potensi BCB di Kotagede antara lain Bokong Semar, Benteng Cepuri, Benteng Tapak Suci, dan Babon Anim. Nantinya, seluruh potensi warisan budaya di sekitaran Between to Gate yang belum diusulkan BCB pun akan dikaji. “Kami konsentrasi di Kotagede tahun ini,” tegasnya.

GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA

Penilaian potensi BCB, ada beberapa kriteria. Mulai dari usia bangunan lebih dari 50 tahun. Bangunan menggunakan gaya arsitektur yang sudah lebih dari 50 tahun. Bangunan memiliki nilai penting pada nilai sejarah, pendidikan, agama, masyarakat.

Pengajuan akan diawali lewat wali kota. Jika dalam narasi memenuhi peringkat DIJ, sekaligus akan diusulkan pemeringkatan potensi BCB ke gubernur. “Atau pusat. Tapi urutannya pasti ke kabupaten-kota, gubernur, kalau provinsi menilai kayak nasional ya bisa dinaikkan,” paparnya.

GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA

Kota Jogja menaungi empat kawasan cagar budaya (KCB). Meliputi Kotagede, Kotabaru, Keraton, dan Pakualaman. Sebanyak dua per tiga dari luas kota bahkan masuk dalam KCB. Setidaknya, kini pun sudah ada 179 BCB di Kota Pelajar. “Jadi BCB tidak selalu dalam KCB, tapi banyak yang di KCB. Pengusulan tiap tahun sebanyak 20 yang penetapan itu melalui biro hukum,” jelasnya.

Kepala Bidang Industri Pariwisata Dinas Pariwisata (Dinpar) DIJ RR Fitri Dyah Wahyuni mengatakan, KCB Kotagede menyimpan daya pikat wisata. Warganya sadar, jika bangunan tempatnya tinggal dapat jadi magnet bagi wisatawan. “Hal ini baik, karena jadi ada kesinambungan. Antara pelestarian dan ekonomi. Sehingga ada kemauan lebih dari masyarakat untuk merawat KCB dan BCB,” cetusnya. (fat/din)

Jogja Utama