RADAR JOGJA – Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja memusnahkan makanan dengan kandungan bahan berbahaya Rabu (18/1). Pelaksanaan pemusnahan dilakukan di Pasar Giwangan terhadap 275 kemasan kerupuk seberat 687,5 kilogram terbukti mengandung boraks.

Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Jogja Veronica Ambar Ismuwardani membeberkan, pemusnahan dilakukan terhadap temuan sejak Agustus 2022. Berdasar operasi petugas di Pasar Beringharjo yang curiga terhadap kerupuk mentah asal Madiun, Jawa Timur. Lantaran sebelumnya, produk ini pernah terbukti mengandung boraks. “Kami tangkap dan lakukan test menggunakan test kit kami, dan ternyata memang (masih, Red) mengandung boraks,” ujarnya diwawancarai dalam sela pengawasan pemusnahan.

Dibeberkan pula, disdag berkoordinasi dengan Polresta Jogja. Namun pelaku Anis Yuliana yang merupakan distributor tidak ditangkap. Setelah tercapai kesepakatan bersama. Anis pun sudah mengakui kesalahannya. Kemudian menyerahkan produknya untuk dimusnahkan. “Kami juga masih melakukan edukasi persuasif. Sebagai bentuk perlindungan konsumen di Kota Jogja,” paparnya.

Selanjutnya, disdag akan memperbanyak pojok test kit di pasar rakyat. Dalam upayanya memberi jaminan pada konsumen. Keberadaan test kit memfasilitasi konsumen melakukan pengujian mandiri. Terhadap panganan yang diragukannya. “Sejak 2022 yang sudah berjalan di Pasar Prawirotaman,” ucapnya.

Tahun ini, disdag berencana membuka pojok test kit di Pasar Beringharjo. Melalui program ini, kandungan berbahaya berupa boraks dan formalin dapat terdeteksi. “Ke depan, kami berharap semua pasar kami berikan fasilitas pojok test kit. Sehingga konsumen bisa langsung cek kualitas barang yang mereka beli,” sebutnya.

Secara detail Kepala Balai Besar Pengawasan Obat dan Malanan (BBPOM) Jogjakarta Trikoranti Mustikawati menjelaskan, bahaya boraks atau bleng tidak langsung berdampak. Tapi terakumulasi dalam tubuh. Sehingga bisa menyebabkan dampak negatif bagi kesehatan. Salah satu contohnya adalah bisa menyebabkan kanker. “Ini membahayakan, terutama bagi anak untuk bertumbuh, berkembang, jadi anak yang sehat dan kuat,” jabarnya.

Trikoranti turut mengungkap temuan di 2022. Kendati menurun, makanan yang mengandung bahan berbahaya masih ditemukan. Paling banyak adalah menggunakan boraks dan formalin. Menurut dia, pihaknya melakukan pembinaan pada pedagang. Termasuk melacak mereka dapat produk itu dari mana. “Maka kami latih dari fasilitator UPT pasar, mereka (warga pasar, Red) bisa melakukan uji sendiri. Sehingga perlindungan konsumen ini (terjamin, Red), produk yang dijual di pasar bebas bahan berbahaya,” lontarnya.

Sekretaris Daerah Kota Jogja Aman Yuriadijaya mengapresiasi kegiatan yang digelar Disdag Kota Jogja bersama BBPOM DIJ. Menurutnya, perlindungan konsumen harus jadi prioritas. Mengingat Kota Gudeg bergerak dalam sektor pariwisata yang berkutat dengan pelayanan. “Betapa soal perlindungan konsumen termasuk keamanan pangan perlu dijaga. Kegiatan menunjukkan simboliasi urusan penting itu sudah, sedang, dan terus dikerjakan di lingkup Pemkot Jogja,” tandas mantan Kepela Bappeda Kota Jogja itu. (fat/pra)

Jogja Utama