RADAR JOGJA – Mayoritas pengusaha pemilik alat ukur, takar, timbang dan perlengkapannya (UTTP) di Bantul diketahui belum banyak yang melakukan tera ulang. Dari catatan instansi terkait, jumlahnya baru sekitar 35 persen dari total keseluruhan wajib tera.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Metrologi, Dinas Koperasi UKM Perdagangan dan Perindustrian Bantul Iwan Rasia Hertanto mengatakan, kesadaran masyarakat Bantul pemilik alat UTTP untuk melakukan tera ulang memang tergolong masih rendah. Dari total alat UTTP sebanyak 23.257 unit, baru sekitar 35 persen atau 9.000 unit yang sudah dilakukan tera ulang.

Iwan menyebut, rendahnya kesadaran masyarakat wajib tera disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya karena banyak masyarakat yang belum tahu kewajiban tera ulang. Padahal tindakan tera ulang sangat penting. Khususnya dalam upaya melindungi konsumen. Sebab alat UTTP sewaktu-waktu bisa menyusut seiring dengan penggunaannya.

“Misalnya konsumen membeli di pedagang buah atau beras satu kilogram, padahal bisa jadi (beratnya) kurang dari satu kilogram seperti 0,8 atau 0,9 kilogram,” terang Iwan kepada wartawan, kemarin (18/1).

Terkait dengan upaya meningkatkan kesadaran masyarakat pemilik UTTP untuk tera ulang, Iwan mengaku sudah memiliki beberapa program. Di antaranya Tera Ulang Jemput Bola (Tulang Jempol) yang berupa kegiatan pengawasan sekaligus tera ulang di tempat atau melalui komunitas-komunitas pemilik dan pengguna alat UTTP.

Kemudian juga melalui kegiatan sosialisasi dan penyuluhan door to door kepada para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) maupun melalui pertemuan. Serta mengoptimalkan Simantul atau sistem informasi metrologi legal Bantul dengan fitur yang bisa mengingatkan wajib tera untuk melakukan tera ulang pada waktunya.

Disebutkan, untuk tarif sekali tera bervariasi. Mulai dari Rp 200 sampai Rp2,5 juta. “Untuk Rp. 200 adalah anak timbangan, Rp 3.000 timbangan meja, dan alat ukur kilang minyak Rp 2,5 juta,” beber Iwan.

Kepala Dinas Koperasi UKM Perdagangan dan Perindustrian (DKUKMPP) Bantul Agus Sulistiyana mendorong, agar wajib tera bisa rutin melakukan tera ulang. Entah itu industri pembuatan alat UTTP maupun penggunanya. Hal itu penting sebagai upaya perlindungan kepada konsumen.

Ia menambahkan bahwa tera ulang UTTP juga haeus dilakukan secara berkala. Untuk tera ulang tahunan wajib dilakukan terhadap alat timbang kecil, meja, atau timbangan digital. Sementara untuk alat ukur minyak milik Pertamina, tera ulangnya wajib dilakukan setiap lima tahun sekali. “Ketika timbangan tepat, hal itu bisa melindungi konsumen. Perlindungan konsumen wajib hukumnya,” ucap Agus. (inu/bah)

Jogja Utama