RADAR JOGJA – Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja merampungkan Detail Engineering Design (DED) atau Rencana Anggaran Biaya (RAB) guna pengajuan dalam perubahan Dana Keistimewaan (Danais) 2023. DED ini akan dipergunakan untuk rehabilitasi enam cagar budaya milik pemerintah berupa sekolah.

Kepala Bidang (Kabid) Warisan Budaya Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Jogja Susilo Munandar mengatakan, enam sekolah yang diajukan masing-masing ada tiga sekolah untuk jenjang SD dan SMP. “Untuk SD Kintelan, SD Kota Baru, SD di utara Istana Negara Jogjakarta. Kemudian SMPN 1, SMPN 6, dan SMPN 8. Detail teknis sudah siap,” ujarnya saat diwawancarai di Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Jogja kemarin (17/1).

Susilo mengungkapkan, sebetulnya pengajuan pada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) sudah dilakukan sejak 2022. Namun belum disetujui untuk pengerjaan fisiknya. Oleh sebab itu, kembali diusulkan untuk mendapatkan anggaran dalam Perubahan Danais 2022.
Dibeberkan, biaya rehabilitasi masing-masing bangunan bervariasi. Nilainya berkisar Rp 300 juta sampai Rp 400 juta untuk satu lokasi. “Kerusakan di sekolah-sekolah tersebut tidak mayor, hanya minor,” lontarnya.

Penggantian atap menjadi perhatian. Ditemukan penurunan atap akibat struktur penopang yang termakan usia. Selain itu, jenis material atap yang digunakan cagar budaya pun mulai sulit ditemukan. “Kalau pelestarian (cagar budaya, Red) material diusahakan sama. Jika tidak diproduksi lagi, bisa dicari yang bisa mewakili yang dahulu. Maka itu yang diterapkan,” paparnya.

Susilo menjelaskan, material atap yang biasa digunakan cagar budaya merupakan genting kripik. Jenis ini tipis dan umumnya dipakai oleh rumah-rumah di kampung. Sekarang tidak banyak yang memproduksi. Sehingga diperlukan kajian arkeolog. “Boleh diganti dengan genting tanah liat dengan motif yang hampir sama dengan genting kripik. Warnanya juga natural. Kami tetap menggunakan kaidah arsitektural yang direkomendasikan arkeolog,” tegasnya.

Selain atap, Susilo juga memperhatikan kerusakan bangunan keenam sekolah yang menggunakan cagar budaya. Mulai dari slot pintu rapuh, dinding yang mulai mengelupas, dan talang yang keropos. “Kalau tidak dibetulkan akan merembes ke dalam bangunan,” tandasnya.

Sekretaris Pemkot Jogja Aman Adijaya membeber, rehabilitasi enam bangunan sekolah, yang menggunakan cagar budaya, merupakan koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD). Komunikasi dijalin oleh Disdikpora, Disbud, dan Administrasi Pembangunan Kota Jogja. “Saya ingin mengatakan, konsentrasi Pemkot Jogja dalam memberikan kontribusi terhadap keistimewaan DIJ tidak hanya bicara seni saja. Tapi juga cagar budaya termasuk kawasan cagar budaya (KCB),” tegasnya.

Dalam rehabilitasi, Pemkot Jogja akan mendahulukan penanganan bangunan pemerintah. Lantaran mekanisme anggaran aset pemerintah dirasa memungkinkan dan cepat untuk dapat diajukan dalam Perubahan Danais 2023. (fat/din)

Jogja Utama