RADAR JOGJA – Pemda DIY memandang penting mengembangkan potensi investasi dan industri berdaya saing tinggi berbasis pengetahuan. Itu mengingat DIY mempunyai keunggulan sumber daya manusia (SDM).

“DIY diberkahi banyak kampus. Generasi mudanya juga melek teknologi informasi (TI) dan sangat kreatif,” kata Kepala Dinas Perizinan dan Penanaman Modal (DPPM) DIY Agus Priono.

Sebagai bukti, adaperusahaan game dari luarnegeri yang memilih DIY sebagai salah satu lokasi  produksinya. Ini menunjukan DIY punya  keunggulan besar dari sisi pengetahuan. Berpotensi untuk terus dikembangkan.

Lebih lanjut dikatakan,dalammerumuskan pengembangan potensi investasi berbasis pengetahuan, DIY telah memilikiRencana Umum Penanaman Modal Daerah (RUPMD)sebagaimanatertuangdalamPeraturanGubernur DIY No. 61 tahun 2020. Dokumen tersebutmenjadi acuan dalampengembanganpotensiunggulan DIY.

”Salah satu peta jalan RUPMD adalah sektor ekonomi kreatif dan digital” ujar mantan Kabag Penyusunan Program dan Peraturan Perundang-undangan Kementerian Luar Negeri RI ini.

Dikatakan, instansinya sebagai kepanjangan tangan Pemda DIY terus mendukung industri digital. Khususnya dunia start up. Di antaranya, tahun ini menyelenggarakan forum jejaring promosi dan informasi investasi DIY.

Dalam acara itu dipertemukan inkubator bisnis dari beberapa perguruan tinggi. Antara lain UGM, UII, UMY dan Amikom. Jugastart up binaannya dengan investor Angel Investment Network Indonesia (ANGIN), Privy ID, dan pemangku kepentingan seperti Bank Indonesia.

Diakui, meski dunia start up saat ini sedang menghadapi banyak gejolak dengan maraknya pemberitaan mengenai usaha rintisan yang gulung tikar dan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawannya, namun dengan inovasi dan kreativitas  tinggi,start up DIY terus bergerak maju.

Kehadiran banyak startup di DIY, sambung Agus, merupakan sebuah momentum. Bahkan ketika adasalahsatumarketplaceternamamemilih DIY menjadi salah satu kantornya, mengindikasikanDIY memiliki banyak talenta. Harus dikembangkan. Dirangkul pemerintah melalui kegiatan inkubasi, pitch deckdan kajian yang dapat dikomunikasikan ke kementerian guna ditindaklanjuti lebih komprehensif.

“Tentu saja masih ada kendaladalammengembangkan potensi investasi berbasis pengetahuan. Yakni kecepatan regulasi pemerintah daerah dan pusat yang jauh tertinggal dengan dinamika dan kecepatan perkembangan sektor ini,” katanya.

Itu karena sektor ekonomi berbasis pengetahuan dan kreativitas memiliki sifat menembus batas-batas birokrasi dan geografis. Satu hal yang penting  dilakukan  adalah memperkecil gap itu melalui banyak dialog.Srawung dengan pelaku industri digital agar  pemerintah memiliki kacamata yang sama dalam melihat satu permasalahan.

Menurut dia, DPPM DIY tidak mungkin dapat bekerja sendirian mengoptimalkan potensi investasiberbasis pengetahuan. Diperlukan sinergi antarpemangku kepentingan di Pemda DIY untuk memberikan arahan kebijakan yang lebih makro.

Selanjutnya, dikerucutkan ke dalam program kegiatan yang lebih teknis. “Langsung kepada sasaran,” tegas alumnus FE UGM Jurusan Ekonomi dan Pembangunan ini.

Sekretaris Komisi B DPRD DIY Aslam Ridlo setuju agar terobosan mengembangkan investasi berbasis pengetahuan itu dikuatkan dengan regulasi. Sebagai langkah awal perlu dibuatkan dengan peraturan gubernur. “Bila dipandang perlu ajukan dalam bentuk peraturan daerah sebagai pionir karena DIY yang memulai,” ucap Aslam.

Bicara industri kreatif, DIY sebenarnya telah memiliki Perda DIY No. 9 Tahun 2017 tentang Pemberdayaan dan Perlindungan Industri Kreatif, Koperasi dan Usaha Kecil. (kus)

Jogja Utama