RADAR JOGJA – Area air mancur Balai Kota (Balkot) Jogja, Timoho dihiasi janur. Bau menyan tercium saat iring-iringan abdi dalem memboyong Kyai Wijoyo Mukti kirab di kompleks balkot. Selanjutnya, pusaka berbentuk tombak tersebut diserahkan kepada Penjabat (Pj) Wali Kota Jogja, Sumadi untuk dibersihkan atau dijamas.

Cucuk Lampah Iring-iringan Abdi Dalem, KMT Harjosohaditaruno menjelaskan, Kyai Wijoyo Mukti dibuat pada era Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) VIII, tepatnya tahun 1921. HB X kemudian memberikannya pada Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja.

“Jamasan dilakukan tiap bulan Suro (penanggalan Jawa, Red). (Jamasan di balkot, Red) dilakukan setelah Keraton Jogjakarta melakukan jamasan,” jabarnya diwawancarai usai upacara di area air mancur Balkot Jogja kemarin (4/8).

Dijelaskan, tombak umum dipergunakan oleh para prajurit. Kyai Wijoyo Mukti mempunyai panjang keseluruhan tiga meter. Tombak dihias pamor wos wutah wengkon dengan dhapur kudhuping gambir. Landean-nya sepanjang 2,5 meter, terbuat dari kayu walikukun, jenis kayu yang juga lazim digunakan untuk gagang tombak dan teruji baik kekerasannya maupun keliatannya. “Kami mewakili abdi dalem Keraton Jogjakarta, dalam kesempatan ini membantu Pemkot Jogja dalam jamasan,” paparnya.

Kepala Dinas Kebudayaan atau Kundha Kabudayan Kota Jogja Yetti Martanti menegaskan, jamasan pusaka merupakan sebuah budaya yang harus dilestarikan. Terlebih, jamasan memiliki makna mendalam dalam filosofi Jawa. “Kami memaknai jamasan pusaka, sebagai pemerintah adalah abdi masyarakat. Membersihkan diri untuk memberi pelayanan terbaik bagi masyarakat. Tujuannya, juga untuk menyejahterakan masyarakat,” pintalnya.

Yetti mengungkapkan, Kyai Wijoyo Mukti sebelumnya disimpan di Bangsal Pracimosono. Sebelum diserahkan pada Pemkot Jogja, tombak ini telah dijamasi oleh KRT Hastono Negoro, di Yudonegaran. Pemberian nama Wijoyo Mukti baru dilakukan beberapa hari jelang upacara penyerahan pada Upacara Peringatan HUT ke-53 Pemkot Jogja, 7 Juni 2000.

Kini, tombak pusaka Kyai Wijoyo Mukti jadi pusaka kebesaran Pemkot Jogja dan disemayamkan di ruang kerja Wali Kota Jogja. Keberadaan tombak pusaka mengisyaratkan pesan, kekuatan moral bagi pemimpin untuk selalu berusaha memakmurkan rakyatnya. Kemakmuran yang dinikmati oleh semua warga. Seperti yang disiratkan dalam pamor wos wutah wengkon dan dhapur kudhuping gambir. “Simbolisasi tersebut kiranya sesuai dengan amanat Gubernur DIJ. Dalam budaya Jawa, pusaka adalah lambang budaya berpamor agama,” urainya. (*/fat/bah)

Jogja Utama