RADAR JOGJA – Kesiapan menghadapi Idul Adha, Pemprov DIJ memastikan ketersediaan sejumlah bahan pokok (bapok) mencukupi dan aman. Hanya diakui ada beberapa komoditas tertentu seperti daging sapi dan cabai rawit mengalami kenaikan harga.

Kepala Biro Perekonomian Setda DIJ Yuna Pancawati mengatakan, menjelang Idul Adha sejumlah ketersediaan bahan pokok terbilang sangat mencukupi. Memang ada sedikit kenaikan harga pada komoditas tertentu seperti cabai, bawang merah, telur, daging ayam ras. “Ya itu karena faktor cuaca yang saat ini tidak menentu,” kata Yuna kepada wartawan di Kompleks Kepatihan, Jogja, Selasa (28/6).

Dikatakan, tidak hanya faktor cuaca, kenaikan beberapa komoditi bapok juga karena hama patek dan tingginya permintaan serta meningkatnya aktivitas atau mobilitas di DIJ. Terlebih pariwisata sudah mulai menggeliat di DIJ ini, ada hajatan, maupun kebutuhan di hotel, restoran dan kafe. “Ini juga terkait dengan kenaikan harga pakan ternak. Kami ada upaya-upaya terkait ketersediaan bahan pokok ini karena memang melambungnya permintaan untuk pangan,” ujarnya.

Upaya itu meliputi penanaman bawang merah di kawasan pesisir, penanaman padi empat kali dalam setahun di lahan seluas 5 ribu hektare. Gerakan tanam kedelai musim kemarau 2022 di Gunungkidul 2.067 hektare. Penyerahan bantuan alat mesin pertanian kepada Kabupaten Sleman, Gunungkidul, dan Bantul untuk meningkatkan produktivitas pertanian, KAD beras antara pemprov, PT Taru Martani, dan Bulog. Serta digitalisasi pasar lelang cabai. “Nanti diharapkan bisa direplikasi di wilayah-wilayah,” jelasnya.

Meski ada kenaikan beberapa komoditas, sebagin besar ketersediaan bapok menjelang Idul Adha sangat mencukupi dan aman. Seperti beras sebesar 21,6 ton dengan kebutuhan per minggu sekitar 7 ribu ton. Kemudian jagung 336,47 ton dengan kebutuhan per minggu 106,25 ton.  Kedelai 624,13 ton, kebutuhan per minggu 608,79 ton. Bawang merah masih cukup sebesar 328, 87 ton dengan kebutuhan per minggu 185,14 ton. Bawang putih dengan ketersediaan 366,20 ton dan kebutuhan per minggu 156,67 ton.

Cabai merah keriting masih 157,13 ton dengan kebutuhan per minggu 85,56 ton. Cabai rawit merah 156,84 ton dengan kebutuhan per minggu 76,73 ton. Daging sapi masih sangat cukup 294,69 ton dengan kebutuhan per minggu 229,81 ton. Daging ayam ras 1.167,60 ton dengan kebutuhan per minggu 809 ton. Telur ayam ras 1.106,19 ton dengan kebutuhan per minggu 815,38 ton. Gula pasir 1.126,08 ton dengan kebutuhan per minggu 571,92 ton. Untuk minyak goreng 956,16 ton dengan kebutuhan per minggu 524,20 ton. “Stok pasokan barang kebutuhan bapok ini di tiga pasar pantauan di DIJ sangat mencukupi dan aman,” terangnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIJ Sugeng Purwanto mengatakan, kebutuhan dan ketersediaan dari 12 komoditas bapok secara umum tersedia dalam keadaan cukup. Meskipun dari sisi harga harus mulai diwaspadai. Salah satunya daging sapi, sudah merangkak di Rp 134 ribu rata-rata per kilogram. “Mulai kita waspadai wajar karena sekarang sedang ada wabah penyakit mulut dan kuku,”  katanya.

Selain daging sapi, beberapa komiditi yang merangkak naik adalah cabai rawit merah mencapai Rp 80 ribu per kilogram. Kemudian cabai merah keriting dan bawang merah. Sementara untuk komoditas yang lain, masih terpantau terkendali harganya. Ini karena faktor perubahan cuaca. “Sangat wajar secara lokal kedaerahan maupun nasional kalau persediaan dan pertanian menurun karena ada permasalahan iklim,”  ujarnya.

Terpisah, Ketua Paguyuban Pedagang Ayem Tentrem Pasar Beringharjo Timur Ida Chabibah mengatakan, rata-rata komoditi sayuran memang mengalami kenaikan. Sejatinya sudah terjadi sejak sebelum Idul Fitri hingga sekarang. Kenaikan ini karena faktor cuaca yang tak menentu ditambah momentum menjelang Idul Adha.

“Harga cabai dan sayur mayur, kenaikannya cukup signifikan sampai 100 persen. Tahun ini rekor, biasanya setelah Lebaran harga turun tapi malah naik sampai hari ini,” katanya kepada Radar Jogja.

Ida menjelaskan, 75 persen komiditi sayuran mengalami  kenaikan harga. Paling signifikan terjadi pada komoditi cabai rawit dari sebelumnya Rp 50 ribu per kilogram sekarang tembus Rp 90 ribu per kilogram. Langkah pedagang saat ini, sementara mengurangi stok dagangan. “Stok cabai biasanya 20 kg berkurang jadi 10 kg. Semoga segera stabil,” tambahnya. (wia/laz)

Jogja Utama