RADAR JOGJA – Lahan zona tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST) transisi di Piyungan, Bantul, ditargetkan selesai dikerjakan pada Juli dan Agustus mendatang siap digunakan. Saat ini sudah memasuki tahapan pengerukan tanah.

Sekprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji mengatakan, seiring kesepakatan antara pemprov dengan masyarakat beberapa waktu lalu, lahan transisi saat ini sudah dikerjakan. “Itu proyek jalan terus, tapi pemanfaatannya setelah zona A dan zona B betul-betul sudah penuh,” katanya kepada wartawan.

Aji menjelaskan, zona transisi nantinya digunakan sampai proses kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU) selesai. Sehingga lahan transisi 2,1 hektare yang disiapkan itu bukan lagi hanya untuk pembuangan sampah semata, melainkan dikerjakan dengan pengolahan. Namun, tidak dapat diprediksi tenggat waktu zona transisi akan mampu menampung sampah. Sebab semakin hari kian bertambah. Mulai 700 ton hingga saat ini 800 ton per hari.

“Transisi itu kebak ora kebak ditinggal atau dikerjakan dengan pengolahan. Kalau untuk tempat pemrosesan atau tempat pengolahan sekarang baru tahap pembebasan lahan,” ujarnya.

Menurutnya, zona A TPST Piyungan Bantul sempat penuh dan hendak ditutup. Namun, sebelum dilakukan penutupan sudah tertangani lebih dulu setelah dilakukan pemadatan turun empat meter dari batas penuh. Apalagi, diprediksi kapasitas TPST tidak sampai akhir 2022 baik zona A dan B. “Ya, maka ini pakai transisi. Sama pembangunan yang di KPBU pakai transisi,” jelasnya.

Terlebih lagi setelah nanti pemprov melakukan pemadatan tinggi, tumpukan sampah di zoba B akan bisa menyamai zona A. Meski saat ini zona A dan B masih bisa dipakai. “Sekarang (zona) A sudah dipakai lagi bisa, syukur kalau transisinya nggak sampai dipakai. Tapi seandainya tempat pemrosesan belum selesai tapi A dan B sudah penuh, ya kita menggunakan transisi,” terangnya.

Sementara upaya jangka panjang, Aji meminta masing-masing kabupaten-kota melakukan pemrosesan sampah dengan pengolahan. Mulai sejak di rumah tangga harus melakukan pemilahan sampah. “Di mana-mana kita sudah beri tempat pembuangan tiga macam. Begitu sampai Piyungan dadi siji, sayang kan. Maka pengolahan di tingkat kabupaten-kota tidak bisa kalau tidak dibantu oleh rumah tangga,” tambahnya. (wia/laz)

Jogja Utama